Pertanyaan Menohok dari Wartawan JTV

Posted on September 15, 2011

0


Hari ini saya dishooting oleh JTV untuk slot acara selama 30 menit yang menampilkan profil saya sebagai Profesor pertama di Univ. Ma Chung. Sudah dari awal saya bilang bahwa saya pasti akan kagok untuk soal yang beginian. Saya bukan celebriti, hanya guru. Maka ya jangan heran nanti kalau melihat acara liputannya di TV kok guru banget, ndak ada warna celeb nya blas!

Setelah shooting di kelas Grammar yang lumayan sukses, saya diwawancara di depan lobby Bhakti Persada. Nah, baru disini keliatan amburadulnya. Sang Mbak reporternya agak sulit mengingat nama saya yang memang ndak lumrah; akibatnya begitu sampai pada kata “saya sudah bersama Prof. Dr–“, terus macet gitu aja dan terpaksa adegan diulang. Kesalahan kedua, saya tidak menatap kamera ketika ngomong, padahal Mbak satunya yang rupanya sutradaranya sudah kasih aba-aba dengan melambai-lambai full semangat di belakang kamera. Yah, terpaksa adegan diulang lagi, kali ini dengan saya harus menatap kamera ketika menjawab.

Pertanyaan dari Mbak JTV yang saya anggap paling menohok siang itu adalah “Apa rencana Bapak setelah menjadi Profesor pertama di Univ. Ma Chung?”. Hmm, saya agak terhenyak. Ya, mau ngapain ya? Yang jelas saya akan terus mengajar, meneliti, melakukan pengabdian masyarakat, dan lain-lain kegiatan akademis. Yah, namanya aja guru, mau ngapain lagi selain mendidik anak-anak saya dan anak-anak orang lain yang menitipkan mereka di tangan saya?

Tapi, pikir punya pikir, saya juga kepingin melihat rekan-rekan lain juga berhasil meniti karir dan akhirnya sampai ke puncak. Saya berharap diam-diam semoga apa yang saya lakukan ini merasuk ke dalam alam bawah sadar mereka dan memacu mereka untuk terus berprestasi dan akhirnya mencapai puncak impiannya. Jadi profesor juga? Ya endak. Saya sudah mengatakan ketika diwawancarai staf Markom (Marketing dan Komunikasi): “There is more to life than just being a professor”. Artinya: mencapai puncak ndak selalu harus jadi Guru Besar, bisa saja menjadi puncak di bidang yang lain, entah pengusaha yang sukses, rohaniwan teladan, motivator inspirasional, bahkan ibu rumah tangga yang baik. Kenapa tidak?

Nah, di bawah ini hadiah dari staf Direktorat Marketing dan Communication di bawah pimpinan Pak Jasmin. Thanks a lot untuk Pak Jasmin, Mas Denny, Mbak Ita, Tanuarto, Tarra, dan Mbak Nina! Pak Jasmin cerita betapa tidak mudahnya mendapatkan wine seperti itu di Malang. Oh, terharu saya. Hmmm. . . what an impressive gift!

Posted in: Uncategorized