Tipe – Tipe Pemimpin

Posted on August 30, 2011

0


Dalam kurun waktu dua belas tahun karir saya sebagai pimpinan unit sejak di Universitas Widya Karya, Ubaya, terus sekarang di Ma Chung, saya bisa melihat dua gaya kepemimpinan.

Tipe pertama adalah yang sangat kuat pada detail. Dia tahu semua peraturan, semua posisi, semua jumlah uang di pos-pos strategis, dan banyak lagi detil lainnya. Tipe ini sangat kuat ingatannya, dan pasti termasuk yang ber IQ tinggi. Solusi yang ditawarkannya selalu manjur, bahkan sebelum banyak orang melihatnya.

Tipe kedua adalah yang tidak secerdas yang pertama. Dalam beberapa hal, justru anak buahnya yang membantunya mengingatkan akan hal-hal yang kecil-kecil namun tetap penting. Namun tipe ini adalah mereka yang bisa dibilang visioner. Pandangannya jauh ke depan, dan dia tidak goyah pada keyakinan bahwa suatu ketika unit yang dipimpinnya pasti akan melesat menjadi jauh lebih maju.

Tiep ketiga adalah tipe impian. Maksud saya, saya belum pernah menjumpai yang seperti ini. Mungkin dia tidak secerdas tipe pertama, pun juga tidak terlalu visioner seperti yang kedua. Namun dia benar-benar bisa menyejajarkan dirinya dengan anak buahnya. Berbicara dengannya seperti bicara dengan seorang teman. Anda tidak sungkan mendebatnya atau bergurau konyol-konyolan di kala senggang. Dia adalah tipe pendengar yang baik, dan senantiasa bisa membuat Anda mengeluarkan semua daya kreatif dan pemikiran yang terbagus yang pernah Anda keluarkan. Gaya kepemimpinannya sangat demokratis: keputusannya didasarkan pada apa yang dianggap sebagian besar timnya sebagai yang terbaik, bukan kehendaknya sendiri. Ini masih ditambah lagi dengan hal istimewa lain: dia tahu sekali sifat orang, dan bisa menempatkan mereka pada tugas dan posisi yang tepat.

Seperti apakah gaya saya memimpin? Saya tidak banyak tahu. Mantan rekan kerja saya di DPM di blognya mengatakan bahwa saya menyukai solusi yang praktis, saya tidak sombong, dan lebih banyak bekerja daripada nggedabrus. Ya, sebagian dari itu benar, sebagian lainnya saya masih sangsi. Am I that good? Tapi kalau boleh memilih, saya ingin menjadi tipe pemimpin yang tipe ketiga di atas itu. Di Fakultas, saya sekarang termasuk yang senior, dengan gelar paling tinggi setelah Pak Sadtono, dan pengalaman memimpin unit paling banyak di antara rekan-rekan lain. Namun saya yakin bahwa tugas saya sebagai pemimpin adalah membuat semua bawahan saya memunculkan yang terbaik dari dirinya, untuk kemajuan Fakultas dan Prodi. Untuk itu saya sangat sadar bahwa di samping semua kelebihan saya, saya juga punya kekurangan, dan rekan-rekan itulah yang menjadi penyeimbang untuk kekurangan saya. Untuk itu maka saya tidak segan berdiskusi, menndengarkan, dan kalau perlu mengambil keputusan berdasarkan apa yang terbaik menurut tim, bukan menurut saya pribadi.

Sebagai pemimpin, saya ingin tugas saya adalah memberi inspirasi dan memberi pedoman supaya arah kami tidak melenceng dari visi dan misi. Lalu saya akan mendengarkan apapun yang mereka sampaikan. Kalau saya rasa agak melenceng, saya akan mencoba mengingatkannya: “Rasanya itu kurang sejalan dengan misi kita, atau Renstra kita”. Atau saya mengajak mereka memikirkan konsekuensinya: “Kalau kita biarkan alur tugas akhir ini tidak jelas seperti ini, adik-adik kelas mereka akan ogah mengurus prosedur dengan benar dan lebih suka main terabas.” Atau membukakan mata mereka akan hal yang mereka belum sadari: “Ya, Universitas ngotot kita punya 30 mahasiswa per angkatan karena itu kan berkaitan erat dengan pemasukan dan pengeluaran. Kita boleh bilang angka 30 itu terlalu besar untuk kelas bahasa, namun kita juga harus memahami bahwa dengan jumlah mahasiswa yang hanya 12 satu kelas, lembaga ini tersengal-sengal mengongkosi semua pengeluaran kita.” Atau menyadarkan mereka bahwa everything happens for a reason: “sudah, ndak usah ditangisi segala kepergian mantan Kaprodi itu. Kan kita percaya Tuhan nih? Nhaa, kita yakin aja bahwa Dia memang menghendaki Bapak itu keluar supaya kita bisa mencari pengganti yang insya Allah akan membantu kita lebih maju.”

Begitulah. Memimpin memang bukan hal mudah. It’s more of an art rather than a science. But that’s exactly why I am here leading the Faculty of Language and Arts and constanly learning from the way I lead people.

Posted in: Uncategorized