Merokok Lagi? Hmmmm . . . .

Posted on August 27, 2011

0


Sudah hampir sebulan saya tidak merokok.

Betul-betul kaget. Dulu sehari saja tidak merokok badan rasanya ndak karuan. Sakaw. Serasa ada yang kurang. Namun nyatanya saya berhasil menumpas keinginan untuk merokok itu.

Sekali memang pernah nekad mencoba menerobos pantangan. Suatu siang mendadak saya pergi menjemput si sulung di Hwa Ind. Semua di rumah mengantar kepergian saya dengan terharu. Mereka mengira saya kok baik sekali; biasanya jam segitu saya pulas di bed, sekarang mau-maunya menembus lalu lintas padat untuk menjemput anak dari sekolah. Mereka tidak tahu saya punya rencana ‘busuk’: saya mau merokok lagi di parkiran sekolah.

Begitu sampai, saya celingukan kiri kanan mencari warung rokok. Eh, baru juga terlihat di ujung sana ada warung kecil, tiba-tiba “Papa!”, sebuah suara memanggil. Ah, si sulung yang sudah semakin besar itu ternyata sudah berdiri di dekat mobil. Batal dah rencana busuk itu.

Minggu depannya, belum kapok juga saya. Saya ulangi taktik yang sama. Kali ini, sekitar sekolah sudah sepi. Sebelum saya mencari ke dalam, terpikir untuk mampir sebentar ke kantin dekat situ, siapa tahu ada rokok. Begitu kaki melangkah masuk, “Papaa!”, jiyaaah, ternyata si sulung sudah ada disitu, sedang asyik makan sama teman-temannya.

Dalam perjalan pulang, dalam hati saya membatin: “Ini berarti pertanda dari Tuhan bahwa aku sudah tidak boleh merokok lagi!.”

Status saya di FB yang mengumumkan bahwa saya sudah berhenti merokok disambut dengan “likes” dari banyak teman. Seorang mahasiswa yang begitu peduli akan kesehatan sampai mengirim komen ke status saya di FB. Isinya tentang efek baik tidak merokok dari waktu ke waktu. Dua hari tidak merokok, efek bagusnya begini. Sekian minggu tidak merokok, makin baik lagi. Sekian bulan tidak merokok, semakin sehat lagi. Wah, sampe segitunya. Tapi memang dia benar.

Saya pikir iklan anti rokok terkesan agak lebay. Disebutkan disitu semua penyakit yang akan mengancam seorang perokok, mulai dari sakit tenggorokan sampai jantung, diabetes, bahkan lemah syahwat. Yang terakhir itu saya ndak percaya, buktinya ketika dulu masih merokok ya saya tetap saja lelaki sejati.

Tapi sekarang saya merasakan sendiri efek positif tidak merokok. Badan dan nafas saya tidak berbau rokok. Hilang sudah cercaan: “kamu kayak kuli atau preman,” dari istri saya. Mungkin saya yang ge-er atau bagaimana, tapi sejak saya berhenti merokok dia nampak lebih menikmati bermesraan dengan saya di malam yang dingin atau pagi yang masih gelap.

Penelitian membuktikan bahwa tindakan baik yang diulang-ulang sampai minimal 21 hari tanpa henti akan melekat menjadi kebiasaan. Saya sudah melewati batas itu, dan saya tahu sudah saatnya saya benar-benar mengucapkan selamat tinggal Gudang Garam dan Djarum Super!

Posted in: Uncategorized