Mengalir seperti Air

Posted on August 27, 2011

0


Mengalir seperti air. Flow like water. Dua kali saya mendengar ungkapan ini. Yang pertama dari seorang mentee, yang kedua dari seorang mantan murid di Surabaya, tanpa keduanya pernah janjian untuk mengutarakannya.

“Flow like water. Saya tidak ingin memilih atau memutuskan sekarang,” demikian mereka berkata. Saya hanya bisa termenung-menung.

Mengalir seperti air. Kalau kita tumpahkan air ke suatu wadah, air itu akan mengalir dan membentuk dirinya sesuai bentuk wadah itu. Dituangkan ke gelas ya bentuknya seperti gelas, dituangkan ke emeber ya bentuknya seperti ember, dituangkan ke mulut ya pasti berbentuk mulut. Pasrah. Tergantung kepada bentuk wadah yang diisinya.

Kalau kita semprotkan air ke suatu dataran, dia akan bergerak mengambil jalan yang menurun. Begitu jalannya menjadi datar, maka dia langsung berhenti dan berangsur-angsur menjadi genangan.

Apakah saya pernah menjalani hidup yang seperti itu? Mengalir begitu saja? Pasrah?

Rasanya tidak. Bagaimana mungkin saya bisa pasrah, kalau apapun yang saya capai dan saya alami sekarang adalah suatu proses perjuangan, atau setidaknya suatu proses berupaya, jatuh bangun, menghindar dari ancaman, menyelesaikan masalah, bahkan sampai merencanakan mau ngomong apa sama seseorang supaya dia tidak tersinggung. Kalau saya mengalir seperti air, barangkali saya tidak akan banyak membuat rencana dan agenda dan apa yang disebut sebagai “pre-meditated actions”. Saya akan langsung spontan bertindak atau berkata-kata begitu saja, dan terserah nanti hasilnya seperti apa.

Seingat saya, saya mengalir seperti air itu ketika berusaha menjadi profesor. Saya hanya menyerahkan semua berkas artikel, penelitian. buku dan segala macamnya ke bagian sumber daya manusia, yang selanjutnya mengirimkannya ke Dikti, dan sesudah itu saya pasrah. Mau jadi profesor ya ayo, mau dihalang-halangi ya sana, mau ndak jadi ya ndak apa-apa. Pasrah. Sampai suatu pagi tanpa ada mimpi kejatuhan durian sebelumnya, rekan kerja saya di DPM mengulurkan tangan untuk memberi selamat kepada saya: “Selamat ya, Pak, saya dengar SK dari Menteri untuk Guru Besar Bapak sudah terbit.”

Begitulah. Mengalir saja seperti air, tahu-tahu SK Patrisius Istiarto Djiwandono sebagai Profesor terbit begitu saja. Sudah takdir mungkin.

Mengalir seperti air. Apakah itu yang sedang dirasakan oleh kedua murid saya itu? Setiap hari mereka nyaris tidak pernah absen menyapa dan kemudian ngobrol dengan saya, (walaupun yang satunya terpaksa absen selama sepuluh hari ke depan karena sedang libur dan YM saya tidak akan aktif). Apakah mereka sedang mengalir begitu saja, menuruti kemana kata hati membawa pada topik-topik yang kami bicarakan? Ya, mungkin saja. Mungkin saya juga begitu. Mengalir saja. Mereka menyapa ya saya balas; kalau nggak menyapa ya sudah, saya berkegiatan yang lain saja.

Mengalir seperti air. Apakah itu identik dengan sikap pasrah? Pasrah, berarti percaya bahwa ada Sesuatu yang sedang mengarahkan kita mau kemana dalam hidup ini?

Belum bisa saya menerimanya dengan nalar. Tapi ya biarlah, ndak usah dipastikan sekarang. Panta rei saja. Mengalir seperti air.

Posted in: Uncategorized