Gak Niat Kawin

Posted on August 22, 2011

0


Mahasisiwi saya ini beraneka ragam. Ada yang sejak sangat muda, semester 1, sudah mantap mau nikah. Kemana-mana selalu bersama seorang pria yang disebutnya sebagai “pacar saya” (ya iyalah, masa Engkongnya). Kalau diajak bicara soal rencana masa depan, yang selalu disebutnya pertama kali adalah “married dulu, terus kerja”. Begitu terus. Pokoknya sudah sangat mantap. Mereka ini, setidaknya dua yang saya kenal, nampak sekali menantikan untuk segera memasuki bahtera perkawinan dan hidup bahagia selama-lamanya.

Tapi tidak semua begitu. Ada juga yang mengalami nasib lain. “Lho, saya ini sudah suka sama dia, Pak” demikian ceritanya suatu pagi, “tapi dia itu orangnya pendiam sekali. Dia nggak pernah mau bilang suka atau ndak, mau nikah atau gimana, wis pokoknya diam seribu bahasa. Coba Bapak bayangkan, Bapak makan malam sama orang seperti itu? Mati kutu kan?”

“Hmm, mungkin dia masih ragu,” jawab saya spontan, karena saya tahu sekali pikiran seorang pria yang seperti itu. “Mungkin dia masih belum mau terikat pada suatu pernikahan, atau mungkin dia ragu sebenarnya suka sama kamu atau endak. Tapi dia nggak tega mau ngomong itu terus terang.”

“Iya, ya, mungkin juga,” jawabnya agak lemas. “Ya, kayaknya dia begitu karena didorong-dorong sama Mamanya terus,” akunya.

Mahasisiwi ini sudah 29 tahun. Kalau dia membina suatu hubungan dengan seorang pria, pasti ya tujuannya untuk menikah, bukan lagi sekedar penjajagan atau sekedar pacaran bersuka-suka saja. Mendadak saya jadi kasihan.

Kabar terakhir yang saya dengar, akhirnya di memutuskan untuk tidak lagi menyimpan harapan pada si pria ini, dan pelan-pelan mulai menutup hatinya. Namun celaka, sang Mama si pria membaui rencana itu dan menelponnya berulang kali, mencoba meluluhkan hatinya dan berjanji memarahi anaknya supaya tidak bersikap ge-je seperti itu. Wah, complicated wis.

“Saya depresi,” katanya suatu pagi. Dan mantan gurunya pun langsung ketiban sampur: harus sabar melayani curhatnya setiap pagi di sela-sela kesibukan ngantor . . . .

Nah, ada juga yang benar-benar ogah sama perkawinan. Setiap kali pembicaraan kami sengaja saya arahkan pada mencari atau mengharapkan calon suami, jawabannya selalu “Ah, itu masih lama, Pak,” atau bahkan “ngomong sing lain aja, Pak, saya males ngomongin yang itu.”

Yang paling mencengangkan dari anak ini adalah bahwa dia cenderung merasa bosan kalau sudah beberapa lama dalam suatu hubungan. Lho, lha ini kan sama artinya ndak niat nikah? Orang nikah itu ya akan selalu bertemu dengan orang yang sama, mulai dari bangun pagi sampai tidur di malam harinya, tahu semua kebiasaaan plus segala sifat buruknya, pokoknya tahu hampir semuanya. Dengan sifat yang cenderung bosan itu, dia hanya akan bertahan happy tidak lebih dari dua tahun dalam hidup pernikahan, sebelum akhirnya merasa jenuh luar biasa karena sudah tahu semua.

Menurut saya, orang itu berkembang, berubah, dan itu sebabnya mereka tidak terjebak pada rasa bosan. Pria yang Anda nikahi tahun ini tidak akan sama dengan dia lima atau sepuluh tahun lagi, dan Anda pun demikian. Disitu letak tantangannya: bagaimana tetap menyayangi, bahkan lebih menyayangi, seseorang yang sudah berikrar sehidup semati bersama Anda. Kalau tekad awalnya adalah saling mencintai, maka hidup ke depannya adalah bagaimana mempertahankan atau bahkan memperkuat rasa cinta itu setelah mengarungi segala suka duka hidup, termasuk rasa bosan. Ingat apa yang pernah saya tulis di blog ini: “Marriage is not always about you. It’s a chance to grow together.”

Yah, saya maklum kenapa beberapa orang, termasuk mahasiswi saya ini, ogah nikah. Untuk beberapa orang, terikat dengan satu orang dalam suatu rumah tangga sampai mati memisahkan hidup mereka adalah gagasan paling mengerikan . . . .

Satu hal yang saya pelajari dari semua mahasiswi saya itu: semuanya wanita setia. Sekali mereka melabuhkan hatinya pada seorang tipe pria, mereka tidak akan berpaling dari situ. Ya entah apa kah semua wanita seperti itu, atau apakah saya saja yang belum menjumpai seorang mahasiswi yang promiscuous. Ya, semoga tidak. Mahasiswa-mahasiswi saya kan anak-anak baik semua.

Post-note:

Posting ini ditulis hanya sekitar tiga minggu menjelang pengukuhan saya sebagai Guru Besar. Mungkin ada yang bertanya “Guru Besar kok nulis ecek-ecek kayak gini sehh??”. Ya, kalau Anda termasuk yang seperti itu, bukan deh Scribd saya di Enjoy Myself. Saya taruh naskah orasi ilmiah saya disitu. Baca, dan Anda akan menjumpai saya dengan warna lain : Profesor abis!

Promiscuous : kayak kucing atau anjing. Malam ini menggauli satu jantan, besoknya pindah ke jantan lain, besoknya lagi pindah ke jantan yang lain, dan seterusnya.

Posted in: Uncategorized