Dendam sama Tuhan

Posted on August 16, 2011

0


Dracula. Menurut legendanya, Dracula ini dulunya seorang ksatria pembela Tuhan. Namun ketika dia sedang berperang, istri yang sangat dicintainya mati mengenaskan. Dracula menangis meraung-raung, dan sejak saat itu dia bersumpah akan mengingkari Tuhan dan berperang melawan kebajikan. Hanya pada saat terakhir dia akhirnya sadar dan ketika nyawanya melayang (sebelumnya, dia tidak bisa mati, namun juga tidak hidup), Tuhan berkenan kembali merangkulnya.

Berapa banyak dari kita yang seperti Dracula? Marah dan dendam sama Tuhan karena kita menganggap bahwa Tuhan lah yang mengambil orang-orang yang kita kasihi? Seorang mentee saya sudah terus terang tidak akan pernah lagi percaya Tuhan setelah Mamanya meninggal karena stroke. “He took my Mom,” katanya. Dulu sekali, saya pernah punya kolega yang juga langsung berhenti ke gereja dan tidak lagi berdoa setelah suaminya yang diperjuangkannya mati-matian akhirnya meninggal dunia.

Tunggu, tunggu, apakah saya pernah dendam sama Tuhan? Tahun 2001, 28 September, saya berjalan gontai di belakang seorang suster di RKZ. Suster itu membawa jenazah seorang bayi berusia satu hari yang meninggal karena tempurung kepalanya tidak terbentuk sempurna ketika lahir. Bayi itu anak saya. . . .

Apakah saya dendam sama Tuhan karena anak saya lahir cacat dan meninggal setelah satu hari lahir? Ya, sebenarnya saya punya alasan sangat kuat untuk marah dan memungkiri Tuhan. Sembilan bulan saya dan istri berjuang dengan doa siang malam, ke romo, ke susteran di Tumpang, minta mukjizat bagi bayi kami yang oleh dokter sudah divonis cacat berat dalam kandungan. Beberapa orang menyarankan pengguguran, toh udah ketahuan cacat. Kami bergeming. Kami tidak mau membunuh darah daging sendiri. Kami percaya Tuhan akan memberinya mukjizat.

Ternyata dia lahir dalam kondisi cacat berat di kepala, sehingga sebagian otaknya terpapar keluar. Setelah sehari lahir, dia meninggal. Di saat itu saya bisa dendam sama Tuhan. Tapi ternyata tidak. Saya tidak dendam, bahkan tidak marah. I was just like : “Oh, ya sudah, Tuhan; kalau memang Engkau tidak berkenan anak kami lahir utuh, ya sudah. Itu kehendakMu.”

Dan saya tetap percaya Tuhan sampai detik ini.

Saya tidak tahu apa yang membedakan saya dengan mentee saya itu. Yang jelas, kami menganut agama yang sama. Saya meragukan agama, namun tetap berteguh pada Tuhan, sementara dia kehilangan kedua-duanya, dan saat ini hanya berpegang kepada mentornya, entah sampai kapan.

Hmm… dendam sama Tuhan. Mungkin kata “dendam” juga kurang tepat, karena memunculkan konotasi akan membalas Tuhan. Manusia tidak bisa membalas Tuhan, tapi hanya bisa marah dan kemudian membuangnya dari sistem kepercayaannya. Jaman dulu, kalau ada orang seperti itu, orang lain akan mengatakan: “Wih! Bertobatlah! Kamu akan dikutuk nanti karena berani memungkiri Tuhan!”. Namun ini jaman millenium kedua. Kalau ada orang marah dan mengingkari Tuhan, orang lain akan bilang “ Emangnya gue pikirin.”

Posted in: Uncategorized