Dari Mentee Buat Sang Mentor

Posted on August 12, 2011

0


Posting ini diambil dari untaian bagus yang dikirimkan oleh seorang mentee ke BB saya pada suatu malam:

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh.

[Yang ini saya tidak banyak mengalami. Tapi karena pada dasarnya perasa, masa sulit itu kadang-kadang menjadi besaaar sekali dalam sejarah hidup saya. Apakah saya tumbuh dalam masa sulit itu? Belum tahu. Semoga demikian. Tapi nampaknya iya, karena sekian bulan ke belakang ada beberapa hal sulit yang sedikit banyak membuat saya tidak lagi seburuk dulu].

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu, karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru, karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

[Yang ini jelas. Saya baru tahu tantangan sesungguh-sungguhnya menjadi Dekan itu ya hari ini. Masya Allah, lha kok segini gedenya? Apalagi di tengah lembaga yang masih perlu banyak perbaikan disana-sini, hal itu jadi terasa seperti menghadapi gunung es gedhe. Ya biarlah, kan berarti saya punya kesempatan untuk membangun karakter dan kekuatan saya]

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

[Yang ini, amat menyesal, belum saya lakukan dengan baik. Hari ini salah, besok insaf, dua bulan lagi saya bisa mengulang kesalahan yang mirip. Blah! Perlu perjuangan keras disini.]

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih, karena itu berarti kamu telah membuat suatu perbedaan.

[Waaaww, ini saya banget! Capek dari kantor, dan menyadari bahwa hari itu kehadiran saya sedikit banyak telah membuat perubahan, senang rasanya]

Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut.

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi hal yang positif.

[Pas dengan apa yang selalu saya yakini: bersyukurlah untuk apapun yang saya terima].

* Terima kasih buat Ivy yang telah mengirimkan ungkapan-ungkapan ini ke saya; syukur juga punya mentee seperti dia. Sekilas cuek, namun dia seperti tahu apa yang dibutuhkan sang mentor setelah agak ngos-ngosan mendaki terjalnya bukit tugas dan tanggung jawab baru, plus segala gejolak emosinya.

Posted in: Uncategorized