Berbohong

Posted on August 7, 2011

0


Jika dilakukan dengan baik dan benar dan taktis, berbohong sungguh mujarab. Kalau semua lancar, bukan hanya manusia yang bisa kita tipu dengan kebohongan, bahkan malaikat penjaga surga pun tidak tahu bahwa kita sudah berbohong.

Namun untunglah ada mekanisme built-in yang membuat berbohong tetap saja tidak nyaman dilakukan: hati nurani. Sepandai apapun kita tutupi hal busuk itu, tetap saja hati nurani yang pada dasarnya bersih dan suci itu mengingatkan kita: “Kamu bohong!”. Kalau kita seseorang yang pada dasarnya mencintai kebajikan dan nilai-nilai luhur tapi terpaksa telah berbohong, maka hati nurani itu akan berdenyar-denyar seperti alarm mobil yang tidak bisa dimatikan, mengganggu ketenangan kita, bahkan membuat kita tidak bisa tidur. “Kamu bohong! You committed a lie! You lie! You lie! Kamu bohong!”, demikian seterusnya sampai kita nyaris gila karena kita tidak bisa tidur.

Tapi kalau kita adalah manusia yang sudah rusak luar dalam dan sudah berbohong lebih banyak daripada kita bernapas, maka hati nurani itu pun pasti sudah membusuk dan kita bebas berbohong semaunya tanpa resah . . . .

Dunia cyber space sedikit banyak membantu saya untuk melacak apakah seseorang yang saya kenal dekat bicara jujur atau berbohong. Jejak kita di dunia maya bisa terendus, asal tahu saja caranya. Saya mulai pintar melacak siapa-siapa saja yang telah membaca blog saya, dan . . . blog orang lain.

Ketika kebohongan seseorang terendus, saya hanya tercenung. “Kenapa harus bohong?” demikian batin saya berkata. “Oh, itu kan bohong putih,” demikian mungkin orang tersebut akan membalas, seandainya dia bisa bicara. “Saya kan tidak ingin melukai perasaan.”

White lie. Bohong putih. Bohong supaya temannya tidak tersinggung atau terluka.

Yah, terserah. Tapi bohong tetap saja bohong.

Semoga hati nuraninya tidak membuatnya nyenyak tidur. . . .

Posted in: Uncategorized