Secara Genetik Kita Ternyata Rasialis: Beirvik, Imigran, dan Stereotipe

Posted on August 3, 2011

0


Anders Beirvik, pria Norwegia yang menggegerkan dunia karena menyemprot dengan peluru ratusan muda-mudi yang sedang berkemah di pulau kecil, mengatakan ungkapan yang mendirikan bulu roma tentang tindakannya: “Atrocious, but necessary”. Dalam bahasa Indonesia, ini artinya: “Tindakan saya memang kejam, namun perlu.”

Puluhan tewas diterjang pelurunya. Mereka kebanyakan kaum imigran dan beragama Muslim. Beirvik sendiri sudah lama memendam kebencian terhadap kaum imigran, apalagi setelah maraknya aksi terorisme yang dikaitkan dengan agama tersebut. Tapi sejahat-jahatnya dia, saya bisa memahami perasaannya. Siapa tidak takut melihat negerinya dipenuhi orang-orang asing, yang nota bene –tanpa mereka sengaja–diasosiasikan dengan tindak terorisme? Anda sendiri juga begitu kan? Diam-diam Anda pasti tidak merasa nyaman melihat ada orang dari ras lain, atau etnis lain, atau agama lain, makin lama makin memenuhi ruang hidup dimana Anda tinggal bersama-sama dengan kaum Anda sendiri?

We are all fucking racists.

Beirvik sendiri adalah seorang pengikut sayap kanan (right-wing), yang artinya berpikir dan memandang hidup berdasarkan prinsip fundamental agama. Seorang pastor dengan bijak mengatakan bahwa tindakan Beirvik itu menghapus stereotipe bahwa terorisme selalu identik dengan Islam, karena ternyata seorang Kristen seperti Beirvik pun bisa terinspirasi tindakan terorisme dari ajaran agama Kristennya yang tentu dia pahami secara keliru.

Kaum Republik di Amerika juga hampir semuanya Kristen, namun mereka terkenal sangat rasialis dan enggan bekerja sama atau bertoleransi dengan bangsa-bangsa lain. Pernah dengar kelompok namanya Tea Party di Amerika? Jangan lantas mengharap Anda bisa minum-minum teh dengan mereka, karena nama itu adalah untuk sekelompok politikus Amerika yang sangat rasialis.

Lha kok bisa ya, orang beragama malah menyebar terorisme dan rasialis? Ya jangan tanya saya, kan saya sudah bilang “I am losing my religion; or at least I am losing my trust in religions, though I still firmly believe in God”.

Dari sudut pandang psikologis, menarik sekali apa yang diungkapkan pakar-pakar psikologis tentang kecenderungan otak manusia untuk memisahkan manusia-manusia lain menjadi “kita” dan “mereka”. Di bahasa Jawa yang terakhir ini disebut dengan sangat elok: “liyan”, artinya “yang lain; bukan kita.”

Kalau Anda etnis Tionghoa, orang-orang yang disebut “pribumi” seperti saya adalah kaum “liyan” bagi ras Anda.

Kalau Anda Muslim, orang Katholik atau orang beragama lain adalah “liyan” buat Anda.

Dan demikian seterusnya.

Nah, di otak kita, masing-masing ras/agama/golongan itu kita labeli dengan anggapan umum, yang disebut stereotipe. Misalnya, ada ras yang kita labeli dengan predikat “pelit; hemat; eksklusif”, ada yang kita labeli dengan “malas; lambat,” ada juga yang kita labeli dengan “kasar; brutal”, dan sebagainya. Kalau ada seseorang dari kelompok liyan itu yang pas dengan label itu, maka otak kita akan terus-menerus mempertahankan ingatan itu; sebaliknya, kalau ada orang dari kelompok kita sendiri yang melakukan suatu tindakan yang tercela, benak kita cenderung menyangkalnya, dan bahkan tidak menyimpannya dalam ingatan jangka panjang. Lebih jahat lagi, kalau seseorang dari kelompok liyan tadi itu melakukan tindakan baik namun tidak sesuai dengan label yang sudah kita tanamkan untuk kelompoknya, kita juga cenderung menyangkalnya.

Contoh gamblangnya begini: Anda seorang etnis Tionghoa. Anda melihat saya tuh malas, lambat, maunya nyantai doang. Maka dengan otomatis Anda akan berpikir: “Yah, Patris tuh orang Jawa, jadi ya memang pantes kalau dia malas dan lambat”.

Tapi kalau Anda melihat bahwa saya hemat, cekatan, dan rajin bekerja, dalam hati Anda tidak akan mengatakan: “Hebat ya si Jawa yang namanya Patris itu. Dia hemat, cekatan, dan rajin bekerja”. Anda tidak akan mengatakan seperti ini, karena gambaran “hemat, cekatan dan rajin bekerja” itu tidak ada dalam label stereotipe tentang orang pribumi Jawa.

Begitu.

So, am I right ? We are all fucking racists, because genetically we are endowed with racist DNA, and unless we do something to shake it off, we are still bunch of fucking racists!

** Ini posting agak gelap. Yang lebih positive-thinking dan optimis memandang bahwa manusia bisa bersatu dalam semangat toleranasi akan saya buat di posting berikutnya.

Posted in: Uncategorized