Fuqing Gonghui, Ciyu Fish, dan Saya

Posted on July 31, 2011

0


Di tengah-tengah kesibukan membangun fakultas dan menuntaskan tugas di QA, saya merintis proyek kerja sama antara ELTISI dengan sebuah perkumpulan Tionghoa bernama Fuqing Gonghui (yang dibaca “fuching konghwei”) di Blitar. Proyek ini kecil, nyaris tak terdengar siapapun karena kalah gaungnya oleh pemilihan rektor, pemilihan dekan, dies natalis, wisuda, pemilihan Of The Year, tes HSK dan sebagainya. Namun buat saya ini sangat berkesan karena menunjukkan efektivitas sebuah kerja sama dan cara kerja yang saya sukai: minim ngomong, banyak tindakan.

Saya beruntung berkawan dekat dengan seorang lao shi yang sudah tiga tahun berada di Ma Chung. Sebut saja namanya HS, dan nama facebooknya Ciyu Fish. HS adalah tipe kolega yang slow starter: dia harus diyakinkan dulu akan manfaat sebuah proyek. Di awal-awal dia akan selalu bilang ‘malas’, atau ‘aku sibuk’ atau ‘lao shi lain saja; aku ndak bisa’ dan seribu satu alasan lainnya. Tak jarang setelah kesal membujuknya dengan cara halus, saya keluarkan jurus kera mengaum: “Just do that, Huang, you are under my supervision! I am your boss! Give this top priority!”. Nah, baru kemudian dia akan pelan tapi pasti bergabung dan kemudian dengan cepat bekerja keras untuk menuntaskan semuanya. Saya sudah melihat gaya siput berubah jadi naga ini setelah dia saya serahi mandat memimpin panitia tes HSK, kemudian mengerjakan proyek Fuqing Gonghui ini.

Apa yang saya lakukan adalah merancang sebuah naskah MOU antara ELTISI dan asosiasi Fuqing Gonghui tersebut, dan dia yang menjadi liason officer: mondar-mandir Blitar – Ma Chung untuk menuntaskan MOU tersebut. Semua moda komunikasi kami pakai: mulai sms, sampe wall FB, sampai BB chat sampai larut malam (karena sama seperti saya, dia juga insomnia sejati).

Kalau pun kami ketemu di kantor untuk suatu masalah urgen, gaya kami sangat khas: ndak ada basa-basi, langsung ngomong tentang tujuan. Kondisinya begini, mereka minta begini, kita bisa begitu. Ok, setuju. Selesai. Bubar jalan! Memang akhirnya terasa kurang manusiawi karena ya tanpa basa-basi tadi itu, tapi buat orang seperti saya yang tidak sabar berlelet-lelet, gaya seperti ini pas sekali.

Satu hal lain yang mengimbangi kepemimpinan saya yang cenderung pendiam dan sangat introvert adalah jejaring yang dia pakai. Dengan jejaringnya tersebut, HS bukan hanya sudah sangat mahir berbahasa Indonesia bahkan sedikit Jawa, tapi juga tahu sudah sejauh mana langkah pesaing-pesaing kursus Mandarin di ELTISI. Suatu ketika dia menerangkan panjang lebar beda kualitas guru Mandarin dari Hanban dan Qiaoban. “Yang Hanban lebih bagus”, katanya; “dan pesaing utama kita sudah pada memakai Hanban semua.” Jdeerr! Maka pusinglah saya harus memikirkan strategi untuk mengimbanginya.

Kembali pada proyek Fuqing Gonghui tadi. Hanya dengan bekal kerja cepat dan saling percaya, akhirnya proyek itu akan mulai hari Senin besok ini. HS akan terbang ke Blitar dan mulai mengajar 5 kelas sekaligus disana. “Mereka dah beli LCD dan komputer,” katanya lewat BB. “Ok,” saya bilang. “Good luck! Ngajar yang baik ya; entar kalau mereka terkesan, kita akan teruskan dan kita buka cabang ELTISI disana”.

Jia you!

Moral lessons:

1. Kepemimpinan akan efektif ketika saya mengetahui kekuatan dan kelemahan saya sebagai pimpinan, dan kekuatan dan kelemahan kolega atau staf saya. Ketika keduanya bersinergi, maka yang timbul adalah kekuatan yang mampu melahirkan sesuatu yang baru dan prospektif.

2. Pemimpin yang baik tidak mudah menyerah oleh sifat kurang baik stafnya yang sebenarnya potensial.

3. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Kalau China terlalu jauh, ya sudah belajar saja di ELTISI; guru-gurunya sudah pada ngumpul disini semua, kok.

Posted in: Uncategorized