Bagaimana Mendengarkan Curhat

Posted on July 28, 2011

2


Saya bukan konselor, bukan peramal atau ahli nujum, juga bukan psikolog. Tapi dengan semakin seringnya orang lain curhat ke saya, lama-lama saya bisa belajar beberapa hal tentang bagaimana menjadi pendengar yang baik ketika dicurhati:

Empati

Kalau seseorang curhat ke saya, saya harus berusaha menaruh diri saya ke dirinya, berusaha melihat masalah dari sudut pandangnya, bahkan berusaha merasakan apa yang dia rasakan. Ini namanya empati. Mudah diucapkan tapi kadang-kadang sulit dilakukan. Kalau pada awal dia curhat saja saya sudah punya judgment terhadapnya, punya prasangka dan praduga terhadapnya, jangan harap bisa mengundang empati. Yang muncul nanti pasti ego saya yang besar ndak ketulungan itu, dan akhirnya bukannya mendengarkan curhat tapi malah saya berdebat dengan si pencurhat.

Jadi keranjang sampah

Kalau seseorang curhat karena dia merasa muuuaarrrah terhadap sesuatu atau seseorang lain, tanpa sadar dia akan melampiaskan perasaan itu ke saya. Tanpa sadar dia akan memaki-maki, berbicara dengan suara keras, bahkan membentak-bentak. Saya harus maklum. Bukan berarti dia marah kepada saya, tapi karena dia sedang menyalurkan perasaan yang sekian lama menggumpal di hatinya dan mencoba menemukan saluran pelepasan. Kebetulan yang dia jumpai adalah saya, maka jadilah saya menjadi keranjang sampah kemarahannya. Ndak papa, sih, malah kalau Anda orang yang baik hati, Anda dengan sukarela membiarkan diri menjadi keranjang sampah seperti ini.

Nanti kalau semua “kotoran emosi”nya itu sudah dia lepas semua ke saya, biasanya dia akan mengatakan : “Aduuh, saya lega sekali bisa curhat seperti ini”. Nah, betul kan? Disitu baru terasa manisnya menjadi seorang pendengar yang baik. Ternyata curhat juga sama dengan kalau kita ke toilet untuk buang air kecil atau besar. Begitu selesai rasanya ringan.

Menggunakan nalar

Ini bagian yang paling berat. Saya tidak bisa hanya menjadi pendengar yang sabar dan rela, tapi pada saat tertentu saya harus ikut berpikir tentang solusi untuk permasalahan si pencurhat. Untuk beberapa kasus, solusi bisa saya dapatkan dengan mudah, karena sedikit banyak si pencurhat yang sedang emosional itu tidak melihatnya, sementara saya yang tidak emosional bisa melihatnya dengan mudah. Beberapa kasus sebenarnya hanya membutuhkan kemauan untuk berkomunikasi, atau sedikit mengalah. Tapi ada juga beberapa kasus berat yang solusinya tidak bisa begitu saja didapatkan. Kalau sudah begini, biasanya saya akan mengatakan: “Baik, kita tunggu sajalah. Biarkan waktu berjalan; kita lihat apa yang akan terjadi. Nah, sementara menunggu, kamu bisa curhat terus ke saya kalau mau.” Ini kasus-kasus khusus, dan juga hanya untuk orang-orang terdekat. Kalau sudah begini si pencurhat biasanya malah tidak datang ke saya, tapi curhatnya mengalir terus via texting atau BB chat.

Jaga rahasia

Orang curhat ke saya karena mereka percaya saya bisa menjaga rahasia mereka. Sekali lagi kadang-kadang ini easier said than done. Kalau saya tahu permasalahan si A, ketika rekan lain datang dan mereka berbicara hal-hal yang sebenarnya keliru tentang si A, mulut ini rasanya gataaaal sekali untuk mengungkapkan apa masalah si A sebenarnya. Namun karena si A sudah mempercayai saya untuk menyimpan masalah itu hanya untuk saya dan dia, maka sayapun akan diam saja dan berlagak pura-pura tidak tahu. Kepercayaan itu penting. Sekali saya melanggarnya, si pencurhat akan merasa dikhianati dan pasti sakit hati sama saya.

Hmm, sulit juga ya jadi pendengar curhat yang baik? Tapi ndak apa-apa; saya suka aja orang datang ke saya dan curhat (ya asal ndak terlalu sering aja). Itu berarti saya masih berguna buat orang lain.

Posted in: Uncategorized