Nasihat Orang Tua

Posted on July 25, 2011

0


Saya menjadi seperti saya sekarang karena sedikit banyak dibentuk oleh didikan orang tua saya. Didikan itu kadang-kadang bisa berwujud nasihat-nasihat yang sampai sekarang masih saya ingat. Saya hanya sedang mencoba mencermati apa dampak nasihat-nasihat itu terhadap diri, status, dan pekerjaan saya sekarang.

“Belajar yang rajin, supaya besok kalau sudah besar bisa kerja dan cari uang sendiri”.

Ini nasihat yang pasti juga sering didengar oleh anak-anak sebaya saya saat itu (sekitar sepuluh tahunan, di bangku SD). Waktu itu , tahun pertengahan 1970 an, pasti yang namanya kewirausahaan, dan ketrampilan non-akademis belum menjadi buzzword seperti sekarang. Hampir semua orang tua ingin anaknya belajar tekun, supaya bisa menjadi insinyur, dokter atau pilot. Maka nasehat itu sering sekali diungkapkan. Dan nyatanya, entah sadar atau setengah sadar, saya menuruti nasehat itu dan jadilah saya seorang akademisi sekarang ini. Apa yang saya peroleh pada pekerjaan dan jabatan sekarang ini sedikit banyak juga karena rajin belajar (baca: belajar di bangku sekolah) seperti yang selalu dipetuahkan kedua orang tua saya.

“Carilah jodoh yang seiman; kalau bisa ya jangan dari etnis atau suku lain, soalnya perkawinan itu untuk seumur hidup. Makin banyak kesamaannya, makin besar kemungkinannya untuk menjadi bahagia”.

Yang ini dinasehatkan ketika saya sudah mahasiswa, dan mulai berani pacaran. Mungkin karena melihat pacar saya adalah dari etnis Tionghoa, Bapak Ibu saya mewanti-wanti seperti itu.

Nah, yang ini ndak saya turuti. Saya menikah dengan pacar saya itu, dan jadilah kami pasangan gula kacang: gula Jawa kacang Cina. Bukan tanpa resiko, karena beberapa kali saya harus menerima perlakuan agak rasis dari etnis Tionghoa. Tapi yah, gimana lagi? Saya ndak pernah menyesal ndak menuruti nasehat orangtua saya itu. Lagipula entah gimana, jalan nasib membawa saya pada lingkungan kerja yang mayoritas dari etnis Tionghoa, mulai dari atasan, kolega, murid, mentee, staf, bahkan sebentar lagi saya punya Kaprodi dan dosen yang semuanya Tionghoa.

Sekarang dunia sudah banyak berubah. Nasehat orang tua mungkin juga tidak klise seperti dulu lagi ketika saya masih SD. Makin banyak yang percaya bahwa banyak jalan menuju kesuksesan di samping jalur bangku sekolah. Makin banyak yang percaya bahwa IP dan nilai rapor tidak selalu menjamin karir yang cemerlang. Makin banyak yang yakin bahwa kepribadian, motivasi, dan empati terhadap orang lain berpengaruh besar dalam kebahagiaan seseorang.

Nah, kalau soal jodoh bagaimana? Kalau yang ini rasanya akan tetap seperti itu, seperti yang tersirat dari nasehat orang tua saya. Kenapa? Iya, karena rasialisme adalah penyakit abadi. Tapi untuk yang ini saya tulis di posting lainnya saja.

Posted in: Uncategorized