Facebooking

Posted on July 22, 2011

0


Jaman Facebook. Suka ndak suka, jijik nggak jijik, lha ya mau gimana lagi, sekarang memang jaman Facebook. Semua ditaruh di Facebook: iklan, kampanye presiden dan calon walikota, jualan barang bekas, ungkapan isi hati, maki-makian, doa, mengigau, penyebaran agama, pemfitnahan, pengggosipan, lelucon, keinginan bunuh diri yang setengah hati, rencana kerja, undangan rapat, bahkan sampai rapat senat pun diatur lewat Facebook. Masya Allah!

Ada orang nama facebooknya EM, yaitu Edan Memang. Sekalipun sudah tergolong manusia dengan usia yang sebenarnya sudah harus bertobat, EM ini rajin sekali mengupdate status Facebooknya. Statusnya beragam, mulai dari yang sangat inspiratif, sampai yang konyol-konyol atau yang gak lucu blas, sampai yang kayaknya serius tapi ternyata rusak, seperti : “Ternyata orang mbencekno pun dikasihi Tuhan. Buktinya, mereka tetap hidup dan sampai sekarang pun tetap mbencekno”. Begitulah. Tak urung kebiasaannya ini membuat gerah beberapa orang yang sebaya dengannya. Tapi ternyata yang terhibur pun tidak sedikit. Dan karena tidak ada yang mau atau yang berani terus terang mencegah kebiasaannya yang aneh itu, maka dia pun terus eksis di Facebook dengan nama yang tak kalah anehnya itu.

Sampai siang ini saya melihatnya pulang dari rapat dengan wajah keruh. “Facebook ku di stalk rekan-rekanku,” katanya (Catatan: di stalk adalah dari istilah bahasa Inggris, yaitu ‘stalked’; artinya : dikuntit dan diincar diam-diam.). “Lho kamu kok tahu?” saya tanya. :Iya, tadi mereka bilang waktu rapat, ” katanya. “Mereka nggak ngomong langsung sih, hanya menyindir-nyindir kebiasaan ngupdate status, dan kok pas yang mereka ambil sebagai contoh itu adalah salah satu statusku tadi pagi.”

“Kapok!” saya bilang dalam hati.

Lepas dari nasibnya, stalker memang jahat. Mereka biasanya bukan friend Anda, tapi mereka mengincar Anda dengan secara rutin memantau Facebook Anda. Nah, kalau Anda tergolong orang yang ingin populer di Facebook, maka settingnyapun kan Anda bikin “open to all”. Nah, itu sasaran empuk buat para stalker, karena mereka dengan mudah melihat segala jerohan Facebook Anda tanpa usah menjadi friend Anda.

Masih soal EM. Dia bisa hafal luar kepala nama-nama friendsnya yang sangat dia suka karena sering memberikan komen di statusnya. Ya iya sih, saya kira itu sangat manusiawi. Kalau Anda memasang status yang menurut Anda sangat keren, tapi kemudian mendapati bahwa tak seorang pun memberikan komen atau bahkan “Like” di status tersebut, Anda pasti sedih atau kecewa. Sebaliknya, semakin banyak yang tertarik untuk memberikan komen, semakin Anda merasa senang karena bisa menarik perhatian banyak orang.

Kalau dulu di tahun 1980 an fenomena nonton TV masih terasa hangat, sampai penyanyi Franky & Jane mengangkatnya menjadi sebuah lagu, maka jaman millenium kedua ini orang belum merasa eksis kalau belum punya akun Facebook. Bahkan fenomena ini juga membuat orang latah. Saya banyak menemui beberapa orang (kebanyakan sudah berusia 40 tahun ke atas) yang punya akun facebook namun tidak pernah diupdate blas selama berbulan-bulan. Lha terus apa gunanya bikin akun Facebook? Tapi ya begitulah. . . . .aneh tapi nyata. Selamat facebooking!

Posted in: Uncategorized