Merokok

Posted on July 21, 2011

2


Saya merokok karena iseng. Hmm, . . no, bukan, tepatnya karena stress. Waktu itu pertengahan 2007. Saya sedang bekerja di sebuah PTS di Surabaya ketika mendadak ada kesempatan melamar kerja di sebuah universitas di Malang. Kontan keluarga pada mendesak untuk pindah ke Malang, supaya bisa berkumpul dengan keluarga. Sayapun stress berat. Pekerjaan sedang bagus-bagusnya di Surabaya kok mau pindah ke sebuah PTS baru di Malang.

Nah, rupanya stress itu yang menggiring ke arah yang sesat. Maka saya diam-diam mulai merokok. Satu batang sehari, dua batang, hmmmm . . . kok mulai terasa dampak enaknya; setiap kali merokok, efek nikotinnya sedikit banyak meringankan beban pikiran itu. Makin mendekati akhir tahun, makin sering saya merokok karena stressnya juga makin tambah seiring dengan tekanan untuk pindah.

Ada cerita konyol. Karena belum berpengalaman merokok, suatu pagi saya buang puntungnya begitu saja ke tempat sampah di depan kantor. Lalu saya ke kamar kecil. Tengah enak-enak disitu, tiba-tiba saya melihat ada kepulan asap dari jendela. Saya tergopoh-gopoh keluar, dan . . . astagaa. . . tempat sampah dimana saya membuang puntung rokok itu tadi sudah mengepulkan asap. Rupanya puntung rokok tadi masih menyala, belum saya matikan sepenuhnya, dan kontan membakar kertas dan plastik yang ada di dalam tempat sampah itu! Langsung saya kembali ke kamar kecil, memgambil air dalam gayung dan menyiram tempat sampah sialan itu sejadi-jadinya. Untung masih pagi, belum ada orang di sekitar situ.

Herannya, begitu pindah ke Universitas Puncak Tidar itu, saya kehilangan gairah untuk merokok. Apa karena kebetulan kampus itu bebas rokok ya? Ndak tahu, yang jelas saya terakhir kali merokok di jalan depan kampus, lalu rokoknya saya buang karena sudah tidak merasa nyaman lagi.

Eh, tahun 2010 saya merokok lagi. Bukan karena stress pasti, karena semenjak pindah kerja ke Malang saya justru semakin mantap mendaki karir. Jadi ya mungkin saya merokok lagi karena tanpa sadar merindukan sensasi tendangan nikotin itu. Mungkin juga karena karir yang bagus disitu harus saya bayar dengan konsentrasi penuh dan kerja keras, yang sedikit banyak terbantu oleh nikotin. Ya bayangkan saja, ketika ide-ide mampet, begitu merokok rasanya seperti simpul-simpul yang buntu di otak tadi langsung terurai, dan cetusan-cetusan ide gemilang pun berlompatan seperti kembang api disulut. Itu lumrah. Saya tahu sekali ya memang itulah cara jebakan nikotin itu bekerja. Jahanam memang.

Tapi kalau tahu cara saya merokok, Anda akan ketawa. Asap rokok tidak pernah saya hisap sepenuhnya ke paru-paru. Saya hisap hanya sampai pangkal mulut, kemudian langsung saya hembuskan keluar. Akibatnya memang gaya saya merokok luar biasa aneh. Sementara perokok lain praktis bersih dari asap karena merokok dengan baik dan benar, saya merokok seperti kapal uap meledak, alias asapnya buanyak sekali! Ha ha haaa!

Apakah itu sama dengan tidak merokok? Ya sama aja. Buktinya ada dampak yang langsung kelihatan: saya makin kurus. Kalau dulu 68 kg, ketika makin sering merokok saya kehilangan sekitar 6 kg. Memang jadi langsing, tapi herannya banyak yang bilang itu sungguh tidak sehat.

Anak saya yang bungsu benci sekali melihat papanya merokok. Berbagai cara dilakukannya untuk mencuri pak rokok saya yang kemudian dilemparnya ke selokan depan rumah, sampai akhirnya saya sembunyikan di tempat yang tidak terjangkau olehnya. Istri saya yang tahu sampai terenyuh melihat tingkah si bungsu yang belum genap 8 tahun tapi sudah sangat sadar untuk meluruskan jalan ayahnya.

Istri saya mengatakan bahwa dengan merokok citra saya menjadi seperti tukang becak, kuli, atau preman, karena hanya orang-orang dari kelas seperti ini yang merokok. Orang-orang yang lebih berpendidikan dan berjabatan mah udah sangat sadar gaya hidup sehat, sehingga tidak akan merokok. Ya, ada benarnya juga sih. Tapi saya tetap aja merokok. Buset.

Merokok itu aneh. Ketika pulang liburan dari Bali, saya sakit. Masuk angin parah sampai badan rasanya mau putus. Di tengah-tengah sakit itu, saya sudah tidak kepikiran lagi untuk merokok. Tapi toh tetap saja ada yang kurang. Maka tanpa sadar saya sudah meraih rokok kemudian menyulutnya. Rasanya ndak karuan, tapi toh tetap saja saya hisap sampai habis. Wah, ini sudah kecanduan parah nih, sudah mendekati obsessive compulsive disorder. Payah ini!

Akhirnya ibu mertua saya yang bersuara paling keras. “Sudah, berhenti merokok! Nanti kalau kena paru-paru kamu bisa mengaduh-aduh kesakitan. Ingat anak-anakmu masih kecil. Kalau kamu mati mereka ya susah.”

Saya langsung berhenti saat itu juga. Itu adalah peringatan paling keras yang pernah saya dengar. Dan manjur.

Posted in: Uncategorized