Kepingan-kepingan Pengalaman 19 Juli 2011

Posted on July 19, 2011

0


Life hit the peak and then goes down a bit before starting to be exciting again, and I have every reason to thank God for that.
(dikutip dari status saya tadi pagi di Facebook).

Orang Inggris bilang : historic moments. Artinya: momen-momen penting dalam kehidupan seseorang. Nah, itulah yang saya rasakan dalam dua minggu terakhir ini. Saya sedang mereposisikan diri menerima mandat baru di Fakultas Bahasa dan Seni.

Dari pimpinan penjaminan mutu menjadi pimpinan Fakultas. Ya jelas lebih berat yang terakhir. Kalau dulu di QA saya berkutat dengan instrumen dan evaluasi, di Fakultas saya bertanggung jawab untuk semua hal, mulai dari urusan fasilitas kampus, prestasi dosen, penjaminan mutu itu sendiri, kegiatan kemahasiswaan, promosi Prodi, kesejahteraan karyawan, beban kerja sampai pada hal paling rumit seperti evaluasi kurikulum. Ya ndak heran diganjar 8 sks. Yang paling mendebarkan sekaligus menyenangkan adalah karena nanti akan ada Prodi baru di bawah Fakultas saya, namanya Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin. Saya sudah sempat bertukar e-mail dengan kaprodinya yang masih ada di Jinan Normal University. Saya meminta uraian tentang visi misi dan kurikulumnya; dia balas dengan mengirim beberapa file yang semuanya ditulis dalam huruf Hanzi. Gubrak! Mendadak saya langsung buta huruf. Yah, terpaksalah saya meminta dia untuk menerjemahkan ke versi Inggrisnya supaya saya bisa memahami.

Udahan ah ngomong soal tugas. Itu entar aja dalam rapat. Saya mau ngomong soal ditinggal orang terdekat. Lhoh?? Iya, ceritanya ada seorang rekan yang tahu-tahu YM chat dan saya guyoni soal lagu dangdut dan campursari. Tiba-tiba dia mengirim file lagu yang judulnya terasa aneh banget di telinga: “Langit Mendung Kutha Ngawi”. “Itu lagu ngenes pool,” kata rekan saya itu. “Siap-siap aja nangis waktu mendengarkannya.” Saya sambut dengan tawa; ya saya mana mungkin bisa nangis mendengar lagu campursari?? Saya hanya akan menangis kalau mendengar lagunya D’Masiv karena nggak tahan cengengnya, ha ha ha!

Terus iseng-iseng menjelang jam pulang saya cari liriknya di Google. Wah, bahasa Jawa. Lah saya ini Jawa salah kedaden, alias Jawa tapi ndak paham bahasa Jawa. Piye iki?? Tapi saya paksakan juga membacanya. Nah, kan, benar kan dugaan saya? Ceritanya klise: ditinggal oleh kekasih yang ternyata tertarik oleh orang lain.

Saya merenung. Melamun setengah merenung, tepatnya. Rekan saya tadi bilang bahwa apa yang ada di lagu itu berkaitan dengan pengalaman pribadinya. Hmm. . . . kalau orang belum pernah merasakan sakitnya ditinggal orang terdekat, apalagi kalau orang itu melabuhkan hati ke lain hati, pasti hanya bisa pringas-pringis kayak saya ketika membaca syair lagu itu. Tapi saya bisa membayangkan. Ya pastilah sakit. Bayangkan, orang yang sehari-hari masih bisa berinteraksi dengan kita, masih bisa memperhatikan dan merawat, atau sekedar ngobrol lewat BB atau sms, tahu-tahu membisu sama sekali karena sudah pindah ke lain hati. Saya jadi berempati sama rekan itu.

Tapi ini bukan posting mellow. Jadi ya segitu aja soal langit mendung di atas kota Ngawi itu. Tadi seorang sekretaris pimpinan datang ke kantor saya. Komentarnya: “Wih, kantor Bapak sepi sekali ya??”. Saya jawab: “Ha ha haaa! Ya memang beginilah yang saya suka!”.

Keren nih kantor. Bener! Luas, cozy dan sepi, jauh dari pandangan orang lalu lalang. Saya bisa tancap gas poool disini; makanya ini belum jam lima kerjaan udah selesai semua karena memang saya bisa maksimal konsentrasi disini. Gila nih ruang kantor! Pantas kuntilanak dan malaikatpun krasan disini, sampe ada yang ketiduran . . . . . (lihat posting berjudul “Angel”).

Posted in: Uncategorized