Catatan Ulang Tahun Percintaan ke 16

Posted on July 17, 2011

0


16 tahun menikah bukan masa yang pendek. Itu masih ditambah dengan 7 tahun pacaran, jadi total kami berdua sudah bersama-sama selama 23 tahun. W.o.w!

Dalam kurun waktu selama nyaris seperempat abad itu, keterlaluan kalau saya belum mengenal istri saya sepenuhnya, dan sebaliknya pula. Ternyata kami boleh dikata berbeda, sekalipun pada beberapa hal lain mempunyai kesamaan. Saya jauh lebih pendiam, reflektif, bahkan kadang-kadang sangat moody (semua dipikirkan, semua dirasakan, dan ujung-ujungnya merenung, atau malah sedih karepe dewe), sementara dia jauh lebih ramai, lebih gaul, dan sangat spontan, mendekati blak-blakan. Namun pada suatu saat, mungkin pada usia perkawinan yang ke sepuluh, kami akhirnya bisa berdamai dengan perbedaan itu, dan in a way it’s like us saying: “Fine. You go with your liking, and I go with mine. And we shall live happily ever after”.

Jadi demikianlah. Jangan heran mendapati dia sering sekali pergi ke fitness center, atau ke mall, atau ke gathering, sementara saya lebih suka berdiam di rumah, menulis, membaca buku, meditasi, kalaupun keluar hanya sebatas bersepeda keliling kompleks. As I said, we go our own ways, but not necessarily drifting apart from each other.

Not necessarily drifting apart from each other. Ya betul. Selepas kerja, biasanya menjelang malam, kami berduaan di kamar tidur, dan kebanyakan saya yang menjadi pendengar yang baik untuk semua ceritanya pada hari itu. Lalu saya akan memijatnya. Dan sebaiknya memang dia tidak menolak dengan alasan kasihan sama suaminya yang mungkin sudah capek, karena saya pasti akan merengut. Ya ndak tahu kenapa, tapi rasanya ritual memijat istri pada malam menjelang tidur itu adalah sesuatu yang harus saya lakukan. Ya bukan harus juga sih, karena saya suka membiarkannya menikmati pijatan saya sampai agak terlelap.

Spontan versus pendiam. Keras versus lembut. Impulsif versus reflektif. Ya seperti itulah. Ideal? Ya ndak tahu, yang jelas kami berdua sudah berdamai dengan perbedaan-perbedaan itu. Beberapa kali kata-katanya melukai perasaan saya yang memang rapuh, dan kalau sudah begitu saya menarik diri sejauh-jauhnya dan maunya selama-lamanya. Namun dia selalu datang kembali dan entah dengan ciuman di pipi atau pelukan mampu membuat saya sembuh dari sensi yang keterlaluan itu.

Apapun itu, seperti yang dia katakan “aku adalah anjing dan kamu kambing. Anjing tahu bagaimana menyayangi seekor kambing.”

Itu saja.

Happy wedding anniversary ke 16!

Catatan:

Istri saya ber shio anjing, dan saya ber shio kambing. Saya Pisces, dan dia Aries.

Posted in: Uncategorized