Rasan-Rasan Orang Melarat

Posted on July 16, 2011

0


Suatu ketika saya dan beberapa rekan bermobil mengunjungi sebuah kompleks perumahan elit tidak jauh dari kampus kami. Di sepanjang jalan kami terkagum-kagum dengan rumah-rumah besar nan mewah. Halaman yang luas, struktur tembok dan kayu yang kokoh, genteng kualitas nomer satu, dan ukuran jendela yang luas menggambarkan betapa besar ruangan di dalamnya.

Seperti dikomando, kami spontan nyeletuk: “Punya rumah besar kayak gini itu ya ndak enak. Bisa dibayangkan capeknya kalau harus membersihkan. Paling tidak harus punya 4 pembantu rumah tangga nih.”

Beberapa menit kemudian, kami lihat beberapa mobil sangat mewah melintas.

“Biyuh,” celetuk kami spontan pula. “Punya mobil-mobil mewah kayak gitu ya ndak enak. Pajaknya pasti mahal, dan kalau nyetir mesti ati-atiii banget. Lha itu kalau kesrempet motor sedikit aja catnya sendiri pasti sudah belasan juta.”

Kami sampai di kampus. Kami harus antri parkir karena ada beberapa mobil beberapa orang kaya raya yang sedang masuk dikawal oleh patroli pengawal dari kepolisian.

“Biyuh,” celetuk kami lagi. “Gak enak ya jadi orang kaya itu. Kemana-mana mesti dikawal. Gitu itu apa ya bisa kayak kita tau-tau brenti di pinggir jalan minum es doger? Jangan-jangan ke kamar mandi pun harus dikawal.”

Peristiwa itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Sekarang saya mengingatnya kembali sambil sedikit tertawa, menertawakan tingkah kami.

Begitulah, orang miskin seperti kami, ternyata—tanpa sepenuhnya sadar—selalu melihat orang-orang kaya dengan sinis, dan cermat sekali memperhatikan kekurangan-kekurangan menjadi orang kaya. Sekarang pertanyaannya: apa iya mereka “menderita” seperti yang kami sangka? Jangan-jangan mereka juga bahagia, hidup bergelimang harta, dikelilingi banyak pembantu rumah tangga, pergi kemana-mana berkendara mobil mewah, bahkan dengan pengawalan pihak berwajib.

Begitulah hidup ini. Pantas komunisme mati, karena memang lebih asyik hidup dalam kelas-kelas sosial seperti ini. Yang super kaya, yang kaya raya, yang kaya sekali, yang biasa-biasa saja, dan yang melarat, lalu melarat soro (udah melarat, sengsara lagi) berbagi ruang dan pandang mata di dunia ini.

Tapi saya juga paham sekarang mengapa sulit buat Anda merengkuh semua lapisan sosial dalam jejaring sosial Anda . Kalau Anda kaya, jangan harap Anda akan punya teman atau guru atau dosen yang secara finansial lebih melarat daripada Anda. Mereka pasti sudah melihat “tembok pembatas” psikologis itu, dan menyingkir dengan sendirinya. Demikian juga kalau Anda biasa-biasa saja, atau bahkan melarat, jangan mimpi bisa berteman dengan orang, sejawat atau bahkan mahasiswa kaya yang saban hari memegang cek dan bukan kartu debit atau kartu ATM kayak Anda, karena tanpa Anda sadari, Anda akan menarik diri dan merekapun juga demikian. . . . .

Posted in: Uncategorized