Angel

Posted on July 15, 2011

0


Saya punya teman. Namanya Angel. Sebenarnya dia tidak punya nama, tapi daripada susah menyebutnya, saya panggil saja Angel. Sebutan itu bukan tanpa alasan, karena memang mewakili sifat-sifatnya.

Tidak seperti saya dan manusia-manusia lain, ada beberapa saraf di benak Angel yang sudah mati. Yang pertama adalah ego. Egonya Angel kecil sekali, nyaris nihil. Karena egonya kecil, dia tidak pernah kelihatan mau menang sendiri dalam suatu diskusi yang kemudian berubah menjadi perdebatan. Kalau dia membuat suatu kebijakan yang kemudian ternyata berubah menjadi hal yang menyengsarakan atau bahkan memalukan, dengan cepat dia menarik kembali kebijakannya itu dan tanpa segan dan tanpa sungkan langsung meminta maaf. Satu hal lagi, Angel tidak pernah tersinggung atau menggerutu ketika dia bertemu dengan seseorang di koridor, dan orang tersebut tidak membalas sapaannya atau senyumnya. “Yang penting saya senyum duluan,” katanya enteng. “Tidak ada sulitnya tersenyum dan menyapa, malah sehat.”

Yang kedua adalah dendam dan perasaan tidak enak. Sebagai manusia, wajar kalau Angel beberapa kali harus berkonflik dengan rekan sejawatnya, atasannya, bahkan bawahan dan murid-muridnya. Beberapa kali dia harus beradu argumen bahkan sampai pada titik bertengkar dengan mereka. Namun, karena syaraf dendam dan perasaan tidak enaknya sudah mati, hanya dalam waktu tidak kurang dari semenit Angel sudah bisa menyapa kembali mereka-mereka itu dengan hangat, bahkan membantu mereka melakukan hal-hal yang dia kebetulan bisa.

Saraf ketiga yang mati dalam dirinya adalah kecemasan dan ketakutan berlebihan. Karena sudah mati, syaraf ini tidak pernah mencegahnya menerima tanggung jawab baru, tugas baru, dan kewajiban baru yang selama ini belum pernah Angel lakukan. Sementara saya dan manusia-manusia lain berhitung ribuan kali untuk menerima suatu tanggung jawab atau tantangan baru dan ujung-ujungnya mengelak dengan berbagai alasan ‘ilmiah’, Angel hanya memerlukan waktu kurang dari semenit untuk berpikir, kemudian langsung mengatakan “Ya, saya akan lakukan itu.” Ketika dalam perjuangannya menerima tantangan itu dia tersandung-sandung dan akhirnya gagal, dengan entengnya dia mengatakan : “Ndak apa-apa. Saya sudah berhasil mempelajari satu cara untuk gagal; dan toh saya banyak menimba hal baru dari pengalaman itu.”

Demikianlah cerita tentang teman saya ini, Angel namanya.

Tadi di awal saya katakan dia manusia, tapi mungkin juga bukan. Buktinya, pagi ini ketika saya datang ke kantor, saya mendapati dia tertidur di bawah meja bundar saya. Ketika suara saya membangunkannya, dia hanya menguap sebentar, tersenyum manis, kemudian tubuhnya berangsur melenyap, menguap lewat tingkap jendela . . . .

Posted in: Uncategorized