Dikasih Murid

Posted on July 14, 2011

0


Dikasihi murid? Ooo, kalau itu saya nggak tahu. Saya nggak tahu apakah mereka mengasihi saya atau pura-pura mengasihi supaya nilainya bagus atau gimana. Tapi bukan, saya bukan sedang berbicara tentang mengasihi, saya sedang menulis tentang dikasih murid. ‘Dikasih’ tuh artinya diberi.

Diberi selalu menyenangkan, betatapun saya tidak pernah mengharapkannya. Tapi pada momen yang kurang tepat, diberi bisa menjadi sumber ndak enak ati. Ini terutama terjadi kalau ada murid/mahasiswa yang memberi saya ketika dia sedang menjadi mahasiswa aktif, atau–lebih gawat lagi–ketika saya sedang membimbing skripsinya.

Saya tidak tahu apa motivasinya memberi ketika proses pembimbingan sedang berjalan. Mungkin juga mereka tulus, memberi karena merasa suka atau merasa terkesan, atau mungkin kasihan melihat dosennya harus memeriksa naskah skripsinya yang banyak salahnya sampai mukanya kucel, ha ha haa! Tapi dari sudut pandang saya pribadi, memberi pada saat seperti ini membuat saya jengah. Mau menolak, rasanya ndak tega; mau menerima, rasanya saya tidak bisa lepas dari prasangka bahwa dia memberi saya supaya nanti proses ujian skripsinya berjalan lancar dan nilainya murah hati. Ooo, nooo!

Ketika lagi asyik liburan di Bali pekan lalu, saya menerima BB chat dari beberapa mantan mahasiswi yang mencari saya di kampus. Lha wong sudah sarjana kok masih mencari mantan Dekannya? Ooh, ternyata mau memberi cendera mata. Jujur saja, saya tidak pernah mengharapkan pemberian apapun dari mantan mahasiswa/i saya. Buat saya, hadiah terbesar itu adalah ketika melihat mereka tumbuh dan berkembang dalam segala hal yang saya tempa dan saya tanamkan sepanjang mereka duduk di bangku kuliah.

Ya, tapi lha kalau sudah magrong-magrong di depan pintu kantor membawa bungkusan untuk saya ya masa mau saya usir? Ya endaklah. Toh saya yakin pemberian itu pasti tulus, karena mereka sudah memenuhi segala kewajiban akademiknya, dan tidak lagi bergantung pada nilai dari saya.

Hari ini saya mendapat rengginang, bandrek dan beberapa makanan khas Jawa Barat dari mantan mahasiswi saya di Sastra Inggris. How nice! “Jangan kaget ya, Sir,” katanya, “Itu ada yang agak ancur; bukan kenapa-kenapa, tapi mungkin terhimpit barang lain waktu di travelnya.”

Mau ancur mau enggak, pokoknya kan masih berupa rengginang tho? Ha ha haa! Horeee, ntar malam minum bandrek!

Hmm…..sebentar, saya kok jadi nulis kayak beginian yah? Nanti mahasiswa yang membaca jangan-jangan mengira saya mengharapkan dikasih makanan atau kado setelah mereka lulus. Haduuuuh…… ndak laaah! Saya bukan dosen tipe itu. Kan sudah saya katakan, saya tidak pernah mengharapkan apapun dari mantan bimbingan saya, kecuali pertumbuhan sikap dan peningkatan kecakapannya. Maksud saya, kalau nulis ya grammarnya harus baik dan benar, jangan ancur lebur seperti ketika mereka masih kuliah, ha ha ha! Gitu aja kok; saya ndak pernah mengharapkan lebih dari itu.

Hmm, bicara soal pemberian, saya baru ingat di kantor DPM ada terpajang pemberian beraksara Tionghoa. Satu dari lao shi, satu dari mentee terdekat. Waduuh, harus segera dikemasi nih, soalnya kayaknya saya sudah pasti akan menempati ruang kantor di Fakultas Bahasa dan Seni sebagai Dekan.

Posted in: Uncategorized