Selepas Wisuda Ma Zhong dan SH Award 2011 UMC dan HODOTY 2011

Posted on July 12, 2011

0


Wisuda sudah usai. Toga dicopot, sanggul dilepas, make up dihapus. Foto-foto diliat bentar, terus ya udah besok aja atau kapan-kapan diupload. Terus apa?

Ya kembali ke dunia sehari-hari. Menulis surat lamaran, menghubungi dosen atau Dekan untuk minta surat referensi, mencari koneksi entah lewat teman atau saudara atau ayah ibu untuk memuluskan lamaran kerja. Mungkin ada yang langsung kuliah lagi, ngambil S2 atau kursus lain. Mungkin juga ada yang merencanakan pernikahan atau setidaknya pertunangan.

Ya terserah sih. Satu hal yang penting, masa depan terus menanti. Rasanya tidak ada yang lebih baik kecuali merencanakan, bahkan menciptakan masa depan itu. Manusia memang seharusnya tidak berhenti berencana. Bahkan untuk orang seperti saya pun yang orang bilang sudah mencapai puncak karir akademis, saya masih harus berpikir apa yang saya lakukan sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, setelah pensiun, mau ngapain? Nah, kembali ke para mahasiswa yang tadi pagi sudah berbinar-binar setelah resmi dikukuhkan sebagai Sarjana Ekonomi, Sarjana Komputer, dan Sarjana Sastra. Pesta berlangsung sesaat, setelah itu waktunya tiba untuk mereka menunjukkan diri sebagai sarjana yang cakap, cepat dan tangkas bekerja, ulet, dan mempunyai karakter baik.

Hari ini juga terasa agak aneh. Baru saja saya menyalami seseorang lao shi dan memuji penampilannya yang disambutnya dengan sangat ceria, eh setengah jam kemudian dia sudah menangis di kantor saya. Menangis sambil marah-marah, bukan kepada saya tetapi kepada sistem atau setidaknya beberapa orang yang memaksanya bekerja begitu keras dan terkesan tidak memperdulikan keinginannya untuk beristirahat beberapa lama untuk menengok orang tuanya. Sebagai orang yang lebih tua dan notabene adalah atasannya, saya hanya diam dan mencoba berempati kepadanya. Kalau sudah begini, omongan saya harus mampu meredam kegusarannya dan menenangkan dirinya dengan kata-kata yang tidak menghakimi atau menuntut, tapi memberinya harapan dan semangat. Yah, not bad. Buktinya dia masih sempat memegang bahu saya dan mengatakan “ I know you are a good leader”, sebelum kemudian pamitan sambil terus terisak-isak . . .

Seperginya saya duduk termenung-menung sendirian di kantor. A good leader? Sehari yang lalu saya menerima penghargaan sebagai Pimpinan Terbaik Tahun 2011. Seperti juga tahun lalu, sebenarnya saya sudah mantap mengundurkan diri dari gelar tersebut, tapi bahkan telpon saya ke atasanpun tetap disambut dengan nada yang sama dengan tahun yang lalu: “”Saya tidak setuju Bapak mengundurkan diri sebagai pemenang. Semua juga tahu Bapak sudah berprestasi dan pantas mendapatkannya.” Ya wis lah, saya juga segan ngotot. Disuruh maju sebagai pemenang ya sudah . . . maju aja.

Tapi dalam hati keyakinan saya tidak terbantahkan: saya tidak bangga, atau setidaknya belum bangga. Saya punya standar yang sangat tinggi terhadap diri saya sendiri, apalagi kalau itu menyangkut kepemimpinan saya. Gelar Head of Directorate of the Year 2011 yang saya terima kemarin pagi itu sebenarnya belum juga sepertiganya dari standar pribadi tersebut.

Posted in: Uncategorized