Mabuk di Wellington

Posted on July 3, 2011

0


1992 ke 2011. Woow, 19 tahun yang lalu saya kuliah di Victoria University of Wellington, New Zealand. Ada beberapa percik pengalaman yang dibuang sayang, maka saya jadikan posting ini:

Girlfriend first, parents later
Sehari setelah saya sampai di Wellington, barang yang saya tuju pertama kali setelah kamar dan kamar mandi dan piring makan adalah telpon. Letaknya di sepanjang tembok dekat dining hall. Bayarnya pakai kartu telfon. Yang saya telpon pertama kali adalah pacar saya (sekarang sudah jadi istri saya). Ndak terasa, waktu lima belas menit seperti sepuluh detik. Tau-tau ada bunyi peringatan dari kartunya yang sudah mau habis. Yaah . . . berat sekali rasanya harus mengakhiri percakapan telpon itu dengan sang kekasih.

Beberapa hari sesudah itu, saya baru bisa beli kartu telpon lagi setelah dapat stipend (uang saku) dari NZ Govt. Kali ini saya menelpon orang tua saya. Baru juga ngomong, saya diomeli Ibu saya. “Masak dari jauh yang kamu telpon pertama kali pacarmu; orang tuamu malah nggak dikabari. Gimana sih?”. Waktu itu saya hanya terheran-heran: “Oh, ternyata orang tuaku kangen juga anak sulungnya”. Soalnya, waktu mau berangkat dari rumah itu, kayaknya orang tua saya biasa-biasa aja, ndak seperti yang gimanaaa gitu anaknya mau pergi jauh. Maka, saya pikir oke-oke saja menelpon kekasih duluan, bukan orang tua saya.

TOEFL 623 mati kutu melawan kasir KFC
Saya datang di bulan Februari 1992, sementara teman-teman saya sudah berada disana November 1991 karena harus mengikuti kursus bahasa Inggris dulu. Ketika saya tanya, kenapa saya tidak diikutkan ke kursus tersebut, sekretaris lembaganya balik tanya: “Skor TOEFL kamu berapa?”. Saya jawab: “623”. Dia tersenyum: “Yah, kalau udah segitu mah ndak usah ikut kursus lagi kan?”.

Maka, dengan sedikit agak bangga karena pujian tadi, saya lalu keluar jalan-jalan bersama seorang teman ke downtown. Setelah jalan-jalan beberapa lama, laparlah kami. Kami masuk ke sebuah restoran KFC. Begitu sampai di depan kasir, sang kasir bertanya dalam bahasa Inggris yang sumpah baru pertama kali itu saya dengar. Saya cuma bisa melongo saja: “Haahh??”. Lalu dia seperti maklum akan kelemotan saya, dan mengulangi dengan lebih lambat. Eh, masih gak nangkep juga! Buset dah! Untung teman saya–yang ironisnya skor TOEFL nya jauh di bawah saya–membantu, dan dia mengulang ucapan si kasir itu: “You want to eat here or take away?“. Ah, baru lah saya ngerti. Sambil makan, saya setengahnya malu sendiri karena skor TOEFL 600 lebih ternyata tidak menjamin saya ngerti omongan orang bule!

Anggur
Dasar kamso (=come from ndesa) alias kampungan, seumur-umur (waktu itu saya 25 tahun) saya belum pernah meminum anggur. Nah, di negeri Kiwi inilah (New Zealand terkenal dengan binatang sejenis burung, namanya Kiwi; makanya orang bule disana juga disebut “the Kiwi”) saya pertama kali merasakan nikmatnya anggur merah. Kejadiannya di event International Day di asrama mahasiswa yang saya tempati. Saya duduk bersama teman-teman dari manca negara di meja panjang, dan hidangan termasuk anggur pun mengalir deras, singgah sebentar di meja, mampir ke gelas, langsung mengalir ke tenggorokan, begitu seterusnya. Tak terasa sudah bergelas-gelas anggur merah saya teguk. Hmmmm . . .

Lalu terjadilah sesuatu yang aneh. Perasaan saya yang tadinya agak jaim dan malu-malu, mendadak berubah menjadi ringan dan ceria. Saya yang biasanya pendiam dan tidak akan mendekati orang asing untuk mengajak kenalan, mendadak punya keberanian untuk menyapa kiri-kanan, kenalan sama orang-orang di sekitar saya, berbincang-bincang, bahkan guyon. Saya ingat ada beberapa teman dari Thai, Fiji, dan Indonesia sendiri yang akhirnya seru ngobrol dan ketawa terbahak-bahak di sekitar saya. Makin lama guyonnya makin seru dan . . . ehm . . . hangat!

Sekitar jam sepuluh malam, pesta usai dan saya jalan sendirian di lorong menuju kamar saya. Tahu-tahu bruk! saya menubruk tembok di samping kiri. Saya jalan lagi, dan tidak terasa tahu-tahu “bruk!” lagi menyerempet tembok sebelah kanan. “Lhoh, aku ini kenapaa??” demikian pikir saya. Kenapa jalan saya jadi terhuyung-huyung begini, bahkan tanpa saya sadari?

Maka, dengan agak cemas saya mampir ke kamar rekan dari Indonesia di lorong itu juga. Saya ceritakan masalahnya; belum selesai juga saya menutup cerita, dia kontan tertawa terbahak-bahak: “Itu kamu mabuk, dodol!”.

Jadi itulah untuk pertama kalinya saya meminum anggur banyak-banyak, dan mabuk! Untung belum terlalu parah. Kalau sudah parah, maka ya kayak anak-anak Kiwi di asrama itu: muntah-muntah di kamar, bikin gaduh di hall, atau nyetir mobil dengan tanpa kesadaran akan kecepatan dan arahnya lagi. Saya sering mendengar atau membaca berita remaja tewas karena nyetir sambil mabuk. Ya iyalah, bisa dibayangkan kalau harus menyetir dalam pengaruh alkohol, sementara saya yang cuma jalan biasa aja bisa terhuyung ke kanan dan ke kiri tanpa sadar.

Are you still long?”

Suatu ketika saya memprint out sebuah paper yang agak panjang untuk tugas suatu mata kuliah. Karena printer di asrama itu hanya satu, maka beberapa anak Kiwi harus menunggu sampai saya selesai. Suatu saat, mungkin karena merasa saya terlalu lama di mesin printer itu (printernya dot matrix, bukan laser jet seperti yang lazim kita pakai sekarang), dia melongokkan kepalanya ke kamar dengan wajah yang sudah bisa saya duga. Saya mengira dia akan bertanya seperti ini: “Will it still take some more time for you to finish printing it out?”. Di luar dugaan, dengan enaknya dia bertanya begini: “Are you still long?”. Woow, sungguh tidak menyangka pertanyaan yang saya kira rumit bisa disederhanakan seperti itu. Are you still long? Apakah kamu masih panjang? Ha ha haa! Nyaris saya jawab dengan mengatakan: “No, I have been this short since I graduated from high school!”. Demikianlah, bahasa Inggris a la anak ndesa berskor TOEFL 623 ternyata masih harus banyak dipoles dengan pengalaman-pengalaman menarik dengan penutur aslinya.

Posted in: Uncategorized