Anjing ber IQ

Posted on July 1, 2011

0


Anjing adalah binatang, dan binatang umumnya tidak sepandai manusia. Tapi beberapa dari tingkah anjing–setidaknya yang saya dengar dan amati–ternyata mengagumkan juga.

Anjing berdeposito

Posting ini diilhami oleh anjing saya di rumah. Tadi pagi pembantu melaporkan bahwa si anjing ini, namanya Taro, suka menggali lubang di tanah depan rumah, kemudian mengubur makanan-makanan sisa disitu dan menimbunnya kembali. Ada tulang sapi, potongan buah, roti basi, daging sisa dan lain-lain. Nah, setelah beberapa hari, timbunan itu akan dikeduknya dan makanannya dia makan. Wis nggak usah membayangkan rasanya; dalam kesempatan kali ini saya hanya mengagumi kecerdikannya. Ternyata anjingpun punya konsep “menabung” yah. Tindakannya menggali, menaruh makanan, kemudian menutup galian dan membongkarnya kembali itu kan persis seperti tingkah manusia membuka rekening bank, menyetor uang, kemudian pada suatu saat mengambilnya kembali dari bank. Berarti juga anjing punya konsep waktu, karena tindakannya itu mencerminkan bahwa dia memahami konsep “sekarang aku simpan” dan “besok aku ambil lagi”.

Ikut berduka cita

Ma Chunger yang saya tahu ditinggal mati anjingnya dan sangat berduka adalah Kyan Kim, anak 2007. Setelah anjing kesayangannya mati, beberapa hari posting FB nya dipenuhi dengan ungkapan menyayat tentang kesedihannya ditinggal pergi. Wah, sampe segitunya ya. Ya iya lah, saya masih ingat suatu siang di rumah orang tua saya (saya masih kuliah waktu itu), anjing kami tahu-tahu kejang-kejang ketika tidur di bawah mobil. Adik saya langsung menariknya keluar dari kolong mobil, tepat ketika sang anjing melepas nyawanya. Mak sek, mati begitu saja. Kontan kedua adik saya yang memang sangat mencintai anjing langsung nangis gerung-gerung di garasi itu juga . . . .

Euthanasia

Cerita di atas mengingatkan saya pada satu kisah nyata, di rumah orang tua saya juga, waktu saya masih SMP. Suatu kali, anjing kami yang sudah lama sakit-sakitan menimbulkan iba berkepanjangan di hati kami. Akhirnya kami tidak tahan menanggung iba, dan bertekad mengakhiri penderitaannya. Caranya gimana? Kami minta saudara sepupu saya yang waktu itu tinggal bersama kami untuk memukul kepala sang anjing dengan potongan besi. Maksud kami, dengan sekali pukul, pastilah si anjing itu akan tewas. Ah, ternyata rencana tinggal rencana. Dipukul sekali, dua kali, tiga kali, masih ada saja nafasnya. Masih terngiang kata-kata ayah saya bertanya kepada saudara sepupu itu: “Gimana? Sudah mati?”. Jawabnya: “Belum, Om!”. Lalu terdengar suara benturan balok besi itu dengan kepala anjing. Dhuak, dhuok, dhuak! “Gimana? Dah mati belum?”. Terdengar jawabannya lagi: “Belum, Om!”

Sampai sekarang saya tidak habis pikir mengapa anjing kami itu bisa begitu kuat. Tapi lebih tidak habis pikir lagi bagaimana mungkin kami sekeluarga bisa punya ide euthanasia yang sadisnya melebihi Nazi itu . . .

Sang anjing akhirnya mati juga. Sepupu saya itu meninggal dunia beberapa belas tahun kemudian karena diabetes akut . .
.

Makhluk nakal tapi cerdik

Masih di rumah ortu saya, waktu saya masih SD. Kami punya dua anjing, satu besar, satunya lebih kecil. Nah, setiap makan bersama, si besar ini suka merampas makanan si kecil dengan paksa. Kalau si kecil melawan, langsung diserbunya sampai berdarah-darah. Akibatnya, kami pun tidak segan menghajar si besar karena tindakan premannya itu.

Nah, suatu ketika, setelah memberi makan kedua anjing itu, kami sengaja bersembunyi di balik pintu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata benar, begitu merasa tidak diawasi, anjing yang besar langsung mendatangi piring si anjing kecil sambil menggeram; si kecil langsung mundur, merelakan makanannya disantap si besar. Nah, begitu kami melihat kejadian itu dari balik pintu, kami menghambur keluar. Eh, kontan si anjing besar itu dengan sigap langsung kembali ke piringnya sendiri dan pura-pura memakan nasi dan lauknya yang sudah tinggal sedikit. Buset! Kok seperti anak kecil ketahuan merebut mainan adiknya ya? Cerdik nih si anjing!

Posted in: Uncategorized