Anjing Malang Nian . . .

Posted on June 30, 2011

0


Saya bukan penyuka anjing. Namun karena banyak teman dan mentee yang ternyata suka anjing, saya mau menulis sedikit tentang anjing.

****

Suatu ketika, sepasang suami istri pecinta anjing datang ke rumah temannya yang masih bujangan. Karena kedatangan mendadak ini, sang bujangan bingung ketika tamunya mengatakan ingin menginap disitu barang sehari saja. Nah, itu berarti dia harus menyediakan makanan, kan? Lha padahal sebagai bujangan, dia tidak terbiasa makan di rumah; makannya kocar kacir ke warung warung yang dia singgahi selepas kerja.

Nah, beberapa hari sebelumnya–mungkin karena takut kemalingan– dia mengambil seekor anjing tak bertuan yang berkeliaran disekitar rumahnya. Sang pasangan tamu yang memang pecinta anjing itu langsung suka pada anjing geladak yang masih terbilang remaja itu. Bahkan mereka sempat memberinya nama, si Pleki. Nah, menjelang jam makan siang, mereka kembali berbincang di ruang tamu. Tiba-tiba sang tuan rumah pamit sebentar ingin menengok suatu urusan di balai RT. Dia pun pergi, meninggalkan tamunya sendirian.

Agak lama, si tuan rumah datang lagi. Ternyata dia membawa masakan untuk mereka bertiga. Maka makanlah mereka dengan suka cita. Nasi dengan lauk daging itu sungguh menggugah selera dan lezat tak ketulungan. Maka, bertanyalah si pasangan: “Wah, ini daging enak sekali, Bang. Empuk, pedas dan gurih. Kau beli dimana ini? Daging apa?”

Sang tuan rumah tidak menjawab.

Karena penasaran, sang tamu bertanya dan bertanya lagi, makin lama nadanya makin tinggi karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Akhirnya sang bujangan pun mengalah, dan berkilah:

“Maaf teman, aku hanya ingin menyuguhkan sesuatu yang layak untuk dimakan. Aku tidak punya apa-apa; nasi ndak ada, yang ada hanya mie kuah dan tempe sisa kemarin. Tapi aku ingat ternyata tadi aku masih punya si itu . . . .” dan dia memandang keluar jendela ke halaman belakang tempat si Pleki tadi bermain-main. Halaman itu sudah kosong karena Pleki sudah tidak berada disitu.

Sang tamu langsung terhenyak dan pucat pasi. Setelah menelan ludah berkali-kali dan mbrebes mili (=mengucurkan air mata), akhirnya sang wanita muntah di piringnya.

“Bangsat!” maki suaminya. “Jadi kau masak si Pleki itu, lalu kau sajikan ke kami. Teganya kau, teman!”

***

Begitulah. Cerita itu sendiri saya dengar beberapa belas tahun yang lalu dari seorang rekan pecinta masakan anjing. Di Malang, ada ungkapan pelembut untuk istilah masakan ini: RW. Saya ndak tahu kenapa bisa jadi RW, padahal anjing yang jelas tidak mirip pak RW atau Pak RT. Nah, saya juga tidak tahu sampai dimana kebenaran cerita itu, tapi rasanya benar, kok. Nah, tambah sedih deh.

Lha ini gimana? Maunya menulis untuk teman dan mentee pencinta anjing, kok jadinya malah sadis begini? Ya, maap kan saya; nanti sore saya posting lagi tentang anjing, deh, sesuatu yang lebih merupakan ode (pujian) untuk makhluk berkaki empat yang dikatakan sebagai “Man’s Best Friend” ini.

Posted in: Uncategorized