Ngerasani Fitness Center

Posted on June 28, 2011

0


Pusat kebugaran. Dan pusat gosip. Dan pusat bibit maksiat.

Dimana orang menonjolkan keindahan dagingnya, disitu besar kemungkinan yang menggoda adalah pikiran-pikiran tidak baik. Lepas dari dampak positifnya terhadap kesehatan–yang ndak akan saya bahas blas disini karena pasti membosankan–fitness center itu, sepanjang pengalaman saya, banyak mengedarkan kisah hidup yang mengagungkan kenikmatan duniawi belaka, ketertarikan sesaat, bahkan pengkhianatan.

Saya mengenal kata fitness center dari seorang mahasiswi saya ketika mengajar di S2. Dia rajin ikut fitness, dan setelah selesai fitness “saya langsung geblas pulang, Pak,” ceritanya. Lho kenapa? “Ooo, kalau udah selesai senam tuh, ibu-ibu muda itu lantas pada ngerumpi, ngegosip yang ndak karu-karuan, kadang malah sampai saling siwak, dan di tempat lain malah ada yang sampai cakar-cakaran!”

Saya melongo saja waktu itu. Kok sampe segitunya ya??

Nah, sepuluh tahun kemudian, saya jadi makin akrab dengan dunia fitness center itu. Bukan, bukan karena saya rajin senam. Saya sering mengantar istri saya ke suatu pusat kebugaran di daerah Dieng sana. Dia rajin sekali fitness, dan karena hasilnya juga sangat kelihatan (terutama setelah dia melahirkan si bungsu), wah tuammbaah rajin lagi dia ini. Nah, dari dia saya mendengar cerita-cerita ngeres:

Ada seorang temannya, wanita usia akhir 20 an tahun , yang memang molek dan cantik, sudah married. Wanita ini punya BB, yang ternyata isinya kenalan pria melulu yang dijumpainya di fitness center itu. Tak ayal lagi sang suami langsung memblokir servis BB nya.

“Kasihan,” komentar saya waktu itu. “Emang kenapa sih, kan hanya kenalan pria lewat BB?”

“Ya, tapi bukan hanya itu,” cerita istriku. “Temanku ini ndak tahan ngeliat pria cakep dan gagah di sekitarnya. Suatu ketika ada pria kayak gitu lewat di depan kita, eh, dia langsung mendehem-dehem dan berusaha menarik perhatiannya dengan mengatakan “eheemm . . . bagus lho!”.

“Astagaaa!” saya terkesiap. “Waduh, kalau aku jadi suaminya, pasti sudah kuikat dia dan kusilet-silet sampai mati kehabisan darah. Ha ha haaaa!” Sadis yah! Ya iyalah, sekalipun kalem, saya adalah pria pencemburu beraat!

Masih beberapa lagi wanita yang dia kenal di pusat itu, dengan kisah-kisah hidup dan gaya hidup yang benar-benar hedonis sejati. Masak istri saya pernah diajak dugem jam 10 malam? “Ayo saay,” demikian bunyi sms nya (ndak tahu kenapa mereka suka memanggil teman-temannya dengan “saay”). “Kita ke Pub XXX; sekali-sekali dugem kan boleh to?”. Wah, wah, wah, itu mah bukan bagian dari gaya hidup kami.

Lalu ada lagi seorang wanita sudah setengah baya yang rajin sekali datang fitness dan gemar mentraktir semua trainernya sampai staf-staf adminnya.Ternyata ada udang di balik semangkok bakso dan tahu tek-tek, yaitu dia berambisi sekali merebut semua kompetisi senam yang digelar pusat kebugaran itu. Makanya, setiap kali ada kompetisi, biar sebenarnya penampilan dia kalah jauh dibanding peserta-peserta lain, selalu saja dia merebut gelar juara pertama. Jadi rupanya disitu berlaku pameo: “siapa murah hati, dia juara.”. Istri saya, waktu belum tahu adat itu, pernah ikut suatu lomba disitu, dan secara jelas dia menang. Namun apa lacur, ternyata yang dimenangkan adalah orang lain yang masuk garis finish di urutan persis di belakangnya. Kontan istri saya protes. Tapi ya sia-sia.

“Halah, lha kamu ngapain juga sih protes-protes gitu!” saya tegur dia. “Lha suamimu ini lho sudah nggak peduli istrinya mau menang atau ndak, yang penting kembali ke rumah dengan selamat tidak tersangkut-sangkut disana, dia sudah senang.”

Cerita seorang trainer lain lagi. Wanita etnis Tionghoa, jatuh hati sama trainer lain keturunan Arab. Yah, jadilah mereka pacaran sampai nikah segala. Eh, begitu ketemu dengan peserta senam lain, sang pria mulai melabuhkan hatinya di tempat lain. Kontan hubungannya dengan sang trainer etnis Tionghoa berantakan. Terakhir konon si pria mulai mencari tambahan penghasilan dengan menjual berbagai barang, lalu pindah ke pusat lain.

Yang lebih membuat miris tentunya apa yang dialami istri saya disitu. Beberapa lawan jenisnya bahkan sudah tidak perduli dia itu wanita bersuami. Ajakan yang terang-terangan sampai yang terselubung sering sekali singgah, entah itu lewat ponselnya atau akun FB nya. Saya sampai tahu mana pria-pria yang mendekatinya; ada satu yang sampai memintanya melakukan hal yang sungguh tidak pernah terbayangkan di benak orang lugu macam saya. Biyuh biyuh biyuh, . . . . pertama saya pikir apa iya ya istri saya yang menanggapi terlalu ramah? Maka saya pun tidak segan mengantarnya ke sana untuk melihat sendiri bagaimana pola interaksinya dengan sesama pelanggan fitness itu. Nampaknya sih biasa-biasa aja, nggak tahu apakah karena saya ada disitu mendampinginya atau pria-pria penggemar itu punya sarana lain.

Terakhir saya ke sana sore hari mengantarnya, banyak mahasiswa dari lembaga saya ternyata juga suka hang out disana. Saya hanya terdiam saja melihat para mahasiswa itu–sebagian besar pria– menyapa istri saya yang juga mengajar mereka, kemudian sama-sama fitness di situ. Bagaimana ya perasaan mereka melihat dosennya berpakaian senam dan fitness bersama? Mungkin orang lain yang sudah terbiasa menganggapnya bukan masalah besar; ya, tapi saya tidak atau belum biasa saja.
(Hmm… on second thought: didn’t I also swim with one of my female mentees at the campus swimming pool? GImana rasanya? Yaaa, biasa aja tuh).

Yang nyaman di fitness center ini adalah fasilitas wi-finya yang cukup cepat, kolam renang, kafe yang menyuguhkan es teh dan kopi dan french fries gurih, plus fasilitas sports yang lain. Sekali sebulan setiap hari Sabtu pagi saya nongkrong disitu menunggu istri saya fitness di dalam. Sementara house music berdentum-dentum di ruang senam, saya nyaman berkelana di Internet, menulis blog, sambil minum teh soda dan french fries, dan . . . . dan itu tuh . . . . (sungkan saya menyebutnya disini, karena nanti mentee saya pasti bilang : “Nhaa, ndak ketinggalan tuh Djarum Supernya! Dasar!”)

Posted in: Uncategorized