Titik.

Posted on June 25, 2011

0


Ada beda besar antara orang pinter dan orang bijak, terutama kalau sudah menyangkut Tuhan.

Orang pintar akan mencari tahu segala-galanya tentang sesuatu; bahkan ranah yang sudah digariskan sebagai misteri Ilahi pun masih digali terus, dicoba dibenturkan dengan bukti-bukti empiris. Baca ini, baca itu, debat sana debat sini, semata-mata untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ternyata tidak ada, atau ada tapi ternyata hanya bualan orang jaman dulu, atau ada tapi bentuknya beda, dan seribu satu macam lagi.

Yaa . . . ok . . . sana baca terus, gali terus. Terus, kalau sudah ketemu, mau apa? So what? Puas bisa ‘membuktikan’ bahwa Tuhan itu tidak ada, atau nabi yang kita sembah-sembah itu ternyata orang biasa? Ok, puas. Terus kalau puas mau apa? So what?

Itu pun masih untung kalau tidak malah tersesat. Karena temuannya ternyata tidak masuk nalarnya, maka mulai ragulah mereka ini. Dari ragu, akhirnya jadi skeptis, lalu apatis, dan akhirnya atheis. Atau, yang lebih parah, pindah dari satu iman ke iman lainnya, hanya untuk menemukan bahwa ternyata disana pun sama meragukannya. Akhirnya goyah lah mereka, lalu kehilangan pegangan, lalu ndak tahu lah . . .

Orang bijak—atau lebih tepatnya: orang sederhana—tahu bahwa nalarnya punya batas, dan mereka memandang bahwa yang namanya misteri Ilahi ya biarlah tetap jadi misteri. Maka alih-alih mengandalkan nalarnya yang serba terbatas itu, mereka punya iman. Beriman berarti percaya begitu saja, tidak ada “bagaimana kalau”, atau “tetapi”. No ifs, no buts, ungkapan bahasa Inggrisnya. Percaya, titik.

Beberapa minggu yang lalu saya diberi sebuah link ke sebuah situs yang isinya memperdebatkan apakah Yesus itu benar-benar Putra Allah atau hanya tukang kayu biasa yang beranak beristri. Saya hanya bilang “terima kasih”, lalu linknya saya delete. Selesai. Saya tidak tertarik pada perdebatan tentang kehidupan sesembahan saya jaman dulu, penggalian artefak dan tulang belulang dan segala macam uji DNA canggih untuk membuktikan keberadaan Yesus. Saya mungkin tidak sepintar rekan itu. Ya biar. Biar bodoh tapi saya beriman. Iman saya sederhana saja: Jesus exists, and Jesus saves. Titik.

Hidup sudah sedemikian kompleks. Menggali-gali masa lalu hanya untuk menemukan kepuasan dari sebuah argumen yang menolak segala klaim rohani adalah sia-sia belaka, setidaknya menurut saya. Ya itu tadi pertanyaan saya: kalau Anda sudah menemukan satu jawaban (yang pasti juga tentatif dan masih akan diperdebatkan oleh banyak pihak), terus kenapa? Terus opo’o? So what?

Menurut saya, lebih baik kita bergumul dengan isu-isu masa kini, karena apa yang kita geluti dan perjuangkan masa kini akan membentuk masa depan; dan masa depan itu ya pasti buat kita sendiri kalau sudah tua, atau pasti buat anak cucu kita.

Posted in: Uncategorized