Tentang Standar Internasional

Posted on June 22, 2011

3


Internasional. Standar internasional.

Saya bertanya-tanya, apa iya kita pernah sejenak merenungkan apa makna kata “internasional” disitu?

Kolam renang berstandar internasional. Apakah ini? Kalau sebuah lembaga punya kolam renang berukuran kolam yang biasa dipakai untuk lomba di ajang internasional, apakah sudah cukup bekal yang dia punyai untuk mengatakan “kami berstandar internasional”?

Bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Apakah ini? Kalau dosen-dosen dan mahasiswanya sudah berkomunikasi, ngobrol, bahkan pisuh-pisuhan dengan bahasa Inggris, apakah sudah layak perguruan tingginya mengatakan “kami berstandar internasional”?

Nah, maka pergilah saya ke Bandung, ke ITB, menghadiri seminar seorang profesor dari University of Leeds. Dia menyampaikan buah pikirannya tentang maraknya gejala latah “kami berstandar internasional” yang sedang mewabah tanpa ada obatnya di negeri ini.

Menurut dia, orang yang mengatakan dirinya berstandar internasional harus punya keperdulian terhadap hal-hal yang juga menjadi keprihatinan dunia internasional. Hal-hal itu sebenarnya sudah terangkum dalam MDG (Millenium Development Goals), yang ternyata banyak berkaitan dengan pemerataan pendidikan, kualitas kesehatan ibu, rendahnya angka kematian pada saat kelahiran, pendidikan yang setara untuk wanita dan pria, pembangunan berwawasan kesehatan lingkungan, kesehatan, dan sebagainya.

Nah, ternyata bukan hanya masalah bahasa Inggris dan ukuran kolam renang, tapi menyangkut dimensi lebih luas yang bertalian erat dengan pembangunan manusia dan pemeliharaan planet Bumi ini.

Jadi, kalau ada orang yang masih gembar-gembor mengatakan bahwa lembaganya sudah berstandar internasional semata-mata hanya karena sudah bisa ngomong bahasa Inggris dan punya perlengkapan/fasilitas yang mewah, maka saya akan tertawa terbahak-bahak. Tragisnya, sekitar seratusan orang sudah mengatakan hal yang sama, dan saya pun sudah tertawa terbahak-bahak seratus kali pula menertawakan kebodohan mereka.

Menurut hemat saya, kok lebih baik mengatakan “kami punya sumber daya dan kekuatan budaya lokal, namun kami tanpa ragu akan mengerahkan upaya untuk mencapai cita-cita dunia internasional”. Ini rasanya lebih membumi, lebih realistis, tidak terkesan upaya mau merengkuh bulan dengan sekali lompat kemudian terbang terbawa angin entah kemana. . . .

Posted in: Uncategorized