Pesan Guru kepada Anak Didiknya yang Mau Lulus

Posted on June 18, 2011

0


Ada setidaknya 5 pesan inti yang saya sampaikan ke para mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2007 pada yudisium kemarin:

Pertama, selamat ya! Sesudah berjuang dengan buku teks, perkuliahan, kuis kecil besar, UAS, sertifikasi Mandarin dan TOEIC, magang, lalu ujian skripsi, akhirnya kalian berhak untuk menyandang gelar Sarjana Sastra. Malam sebelum yudisium, saya lihat AKP–mahasiswa dengan IPK tertinggi– menambahkan “S.S.” di belakang namanya di BB. Saya chat setengah guyon: “Lhoo, kok gelar S.S.nya udah dipasang? Tunggu besok dong, ha ha haa!”. Eh, guyonan saya dianggap serius. Langsung “S.S”. nya dihapus!

Kedua, kalian patut bangga dengan pencapaian ini. Gelar Sarjana, IPK tinggi, ditambah label “Lulus dengan Pujian”, atau “Lulus dengan Sangat Memuaskan”, pastilah membuat bangga, bukan cuma kalian tapi juga orang tua. Ok, sekarang saatnya mereguk kebanggaan itu. Bangga lah sebangga-bangganya! Apa yang kalian nikmati hari ini adalah buah kerja kalian di masa lampau; dan apa yang Anda lakukan setelah ini akan membentuk masa depanmu.

Tapi ini yang ketiga: masih ada yang juga sama pentingnya–bahkan lebih penting– daripada sekedar gelar Sarjana, IPK tinggi dan status Cum Laude. Dunia luar terbukti menjadi panggung kemenangan untuk mereka yang tidak hanya pintar secara akademis, namun juga percaya diri, berkontribusi, berkarakter positif, mempunyai kemampuan interpersonal yang baik, mengendalikan emosi, terpercaya, dan dapat diandalkan oleh sesama. Di antara wajah-wajah berbinar-binar para calon wisudawan itu, saya tahu sekali siapa-siapa yang cenderung mau jalan pintas, tidak punya perencanaan dalam hidup sampai harus dilecut-lecut untuk bisa selesai pada hari-hari terakhir semester, malas, atau bahkan bertabiat buruk. Kalau perangai itu tetap melekat bahkan setelah lulus, percuma lah semua gelar Sarjana dan IPK tinggi tadi.

Keempat, saya tidak pernah mengharapkan atau bahkan mengharuskan lulusan-lulusan Fakultas ini menjadi pakar di bidang sastra, linguistik atau pendidikan bahasa semata. Talenta dan minat setiap orang itu berbeda-beda, dan kesempatan untuk hidup di dunia ini pun sangat banyak. Maka lebih baik untuk mengenali benar-benar apa talentamu, dalam hal mana kamu sungguh-sungguh berbakat dan merasa sangat suka mengerjakannya. Mau menjadi pakar dan dosen bahasa seperti Dekan Anda? Silakan! Lebih tertarik menulis novel dan menterjemahkan? Ooo, itu bagus! Lebih berminat mendirikan usaha sendiri di bidang pariwisata? Ohh, itu kereen! Mau menjadi ibu rumah tangga saja? Oh, kenapa tidak? Jadilah ibu rumah tangga yang mampu mendidik generasi masa depan menjadi generasi unggul!

Kelima, dan ini saya rasa yang terpenting: punyailah pegangan hidup. Pegangan ini membuat Anda tetap utuh bahkan ketika badai kehidupan seganas apapun menerjang. Pegangan itu bisa berupa prinsip hidup yang sudah ditanamkan sejak kecil, bisa berupa nilai-nilai yang telah diserap selama kuliah di Ma Chung, bisa berupa ayat-ayat Kitab Suci yang menguatkan, bisa berupa seorang tokoh panutan, pendek kata semua hal baik yang mampu membuat Anda tetap teguh di masa-masa sulit hidup Anda.

Sekali lagi selamat! Anda semua layak menyandang gelar Sarjana sekarang. Selamat tinggal, dan selamat jalan menuju ke dunia nyata. Ingat, sedikit banyak tangan dan pikiran Anda sendirilah yang mengukir sukses dan kebahagiaan Anda di masa depan.

Posted in: Uncategorized