Tentang Cinta dan Sayang

Posted on June 12, 2011

2


Sebenarnya saya sendiri tidak tahu harus menulis apa di posting ini. Setelah mendengarkan curhat setengah sharing setengah diskusi dengan seseorang, saya jadi makin bingung tentang apa yang dinamakan perasaan sayang dan cinta.

‘Cinta itu lemah lembut. Cinta itu tidak tinggi hati. Cinta itu memahami. Cinta itu memberi,’ demikian lirik sebuah lagu rohani yang sangat saya suka.

Lha tapi kalau mengaku mencintai seseorang, kenapa juga kita kadang-kadang cemburu berat melihat dia memberikan sedikit perhatian pada yang lain? Kenapa juga kadang-kadang kita tidak mau memahami perasaannya? Lha kalau begitu, sebenarnya saya ini cinta sama dia atau lebih mencintai diri saya sendiri?

Sayang demikian juga. Kita mengaku sayang seseorang, itu apa artinya? Pada suatu titik, saya merasa menemukan jawabannya. Begini: saya sayang seseorang, sedemikian sayangnya sehingga pada suatu saat saya akan melepasnya, meninggalkannya, dan membiarkannya menempuh jalan hidupnya sendiri. Itu terjadi karena mungkin saya sudah tidak bisa lagi memenuhi harapannya, atau saya melihat ada jalan (baca: seseorang) yang lebih baik buat dia.

Sesaat saya lega akan jawaban itu. Tapi beberapa lama kemudian, setelah saya pikir-pikir lagi, saya merasa ada yang salah. Apa ya benar seperti itu? Lha kalau ternyata dia selama ini merasa bahwa saya adalah cahaya hidupnya, yang mampu membuatnya ceria dan nyaman, tempat dia berkeluh kesah dan menemukan sedikit penghiburan, apa ya masih sayang namanya kalau saya kemudian meninggalkannya begitu saja?

Makin dipikir makin mbulet. Apalagi yang ini: banyak kali saya mendapati dari cerita seorang teman bahwa dia tidak mampu melupakan seseorang yang pernah dekat dengannya. “Ya, aku tahu bahwa dia punya beberapa sifat jelek, tapi dia juga punya sifat baik,” demikian mereka berkisah.” Aku juga banyak melihat orang-orang lain yang jelas-jelas lebih baik daripada dia; lebih cantik, lebih pintar, lebih ceria. Tapi entah kenapa aku tidak bisa melupakan yang satu itu dan selalu merindukannya dari waktu ke waktu.”

Aneh, kalau nggak bisa dibilang misterius. Sudah jelas ada orang lain yang lebih baik, sudah jelas bahwa orang yang dekat itu punya beberapa sifat buruk, tapi toh hati kita nyaris tidak bisa meninggalkannya. Seolah kita mengatakan “ aku benci sekali sifat-sifatmu yang seperti itu, tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku cinta padamu, lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihanmu.”

Saya pernah ditanya seseorang: “kamu sayang aku?”

“Iya,” jawab saya.

“Kalau kamu melihatku berhubungan dekat dengan pria lain, kamu marah?”

“Lha perasaan kamu bagaimana terhadap pria itu?” saya balik bertanya.

“Ya,. . .hmm.. sayang juga . . .”

“Lha ya sudah,” jawab saya lugas. “Dia sayang kamu, kamu sayang dia, ya sudah. Itu berarti kamu happy kan? Jadi ya aku nggak akan marah, karena melihat kamu happy, dan karena aku sayang sama kamu, maka akupun ikut happy.”

Di luar dugaan, dia marah dan memotong dengan kata-kata yang masih terngiang sampai sekarang: “You’re crazy! You are out of your mind! How dare you say you still care about me??!!”

Suatu ketika saya bertengkar hebat dengan seorang kekasih. Begitu hebatnya pertengkaran sampai dia menangis. Lalu hening beberapa lama. Lalu saya bertanya dengan setengah ayal-ayalan karena sudah capek dan pasrah: “Do you still love me? With this kind of fight there is no love anymore, right?”.

Di luar dugaan dia menjawab: “Yeah,” katanya, sambil mengusap matanya yang basah. “The love is still there.”

Saya terpana. . . .

*******

Guaranteed. You are here. Right here. No still, no if, no but.
I care about you. That’s all I can say.

Posted in: Uncategorized