Mister Boss Prof Bapaaak . . .

Posted on June 11, 2011

0


Saya punya setidaknya empat panggilan, yang dalam bahasa Inggris disebut honorific system.

Satu, yang paling tidak saya suka, adalah “Mister”.

“Hello Mister,” sapa seseorang di FB. “How are you?”.

“Mister, can I see you at the office?”

Hmmhh… saya mengernyit. Panggilan “Mister” mengkonotasikan sesuatu yang asing, seperti seolah-olah saya ini bule bantat yang berkeliaran di Bali mencari pria homo atau mau ngisap ganja. Saya tidak suka dipanggil seperti ini. Tapi ya mungkin bukan salah yang manggil. Mungkin juga mereka menganggapnya itu sopan. Yang jelas mereka pasti lugu, karena sembarangan memanggil orang Indonesia dengan nama itu. Di budaya aslinya di Barat, itu hanya dipakai untuk menyapa seseorang dalam suasana sangat formal, seperti “Mister Djiwandono, could you please step forward to the stage?”. Perhatikan, kata “Mister” diikuti oleh nama belakang atau nama keluarga saya. Jadi yang memanggil saya dengan “Mister Patris” itu harus ikut kuliah Sociolinguistics dan Introduction to Culture sampai 4 kali dan nilainya minimal harus A+, ha ha haaaaaaa!

Kedua, panggilan “Boss”. Ini lebih membuat saya jengah. Istilah “boss” membuat saya seolah-olah seperti boss mafia atau boss rumah pelacuran atau boss judi atau semuanya yang jelek-jelek. Kalaupun yang memanggil adalah rekan sekantor, saya tetap saja tidak suka. Saya tidak pernah memandang rekan sekantor, sekalipun secara resmi mereka itu adalah bawahan saya, sebagai seorang yang statusnya lebih rendah daripada saya. Coba lihat, di posting-posting sebelumnya, saya selalu menyebut mereka dengan “rekan kerja” atau minimal “staf saya”. Saya merasa kami adalah bagian dari sistem, dan kami bekerja sama dalam suatu unit. Jadi sebenarnya kami punya porsi dan kedudukan yang setara; jadi ndak ada itu saya adalah “Boss” dan mereka anak buah saya. Ooo ho hoo, no way! Makanya, saya tidak suka dipanggil “Boss”.

Ketiga, adalah panggilan “Prof”. Sejak saya bergelar Profesor, beberapa orang langsung merubah panggilannya menjadi “Prof”. Ini pun sebenarnya tidak membuat saya nyaman. Bahwa saya profesor itu memang iya; lha wong SK nya jelas dan gajinya pun beda dengan mereka yang belum Profesor. Tapi itu tidak membuatnya perlu diomongkan ketika memanggil saya. Coba bayangkan betapa janggalnya situasi ini: Pak Wastam mengkomando saya memarkir mobil” Ayo Prof, mundur, mundur, mundur, puter kanan, lurus Prof, luruuus, hooopp!”. Jiyaahh !

Nah, terakhir adalah panggilan yang sangat, sangat saya sukai: “Bapak” atau “Pak”, atau “Papa”.

Aduuh, dengan panggilan yang terakhir ini saya betul-betul merasa pas. Panggilan itu ndemenakke ati, kata orang Jawa. Artinya : “menentramkan hati”. Saya betul-betul merasa bahwa panggilan “Bapak” menempatkan saya pada status dan kedudukan yang benar-benar layak saya tempati. Saya seorang ayah, saya seorang mentor, seorang dosen, seorang guru. Hubungan saya dengan anak, mentee, mahasiswa, dan murid adalah hubungan hangat antara seorang ayah dengan anaknya. Panggilan “Bapak” mengkonotasikan kehangatan, kasih sayang, perhatian, dan kepedulian terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, mentee, murid ataupun mahasiswa saya.

Saya punya kenangan khusus dengan panggilan “Bapak”. Tidak akan saya ungkapkan disini karena segemblung-gemblungnya saya sebagai seorang blogger, hal itu adalah kisah sangat pribadi dari sejarah hidup saya. Cukuplah saya katakan disini bahwa saya sangat menyukai panggilan “Bapak” yang ditujukan kepada saya. Pas. Nyaman. Hangat.

Posted in: Uncategorized