Kenapa Saya Dapat Jelek

Posted on June 10, 2011

0


Salah satu penggalan dialog yang kemarin terjadi ketika mentoring adalah ucapan para mentee saya tentang nilai ujian akhirnya yang jelek. Mereka hanya bilang : “Pak, saya dapat jelek! Dapat 15”; yang lainnya nyambung: “Iya, saya juga dapat jelek, Pak!”. Setelah itu mereka cengar-cengir . . . .

Saya ajak mereka berpikir lebih jauh daripada hanya pringas-pringis seperti itu: “Kamu tahu kenapa dapat jelek?”

“Soalnya saya ndak bisa mengerjakan tesnya, Pak. Begitu kertas dibagi, saya ndlahom melihat soalnya. Yang paling bisa ya hanya tanda tangan daftar hadir, setelah itu ndak tahu wis.”

Saya tanya lagi lebih jauh: “lha kok bisa demikian? Apakah kamu tidak belajar malam atau hari-hari sebelumnya?”

Mereka menjawab: “Endak.”

“Kenapa tidak?”

“Soalnya cara mengajar dosennya ndak enak,” kilah mereka. “Saya ndak ngerti apa-apa yang dia terangkan. Kalau ditanya malah dia suruh kita cari jawabannya sendiri.”

“Lha terus, kalau sudah tahu dosennya ndak enak, kalian melakukan apa supaya bisa sedikit banyak menguasai ilmu itu?” saya tanya lagi.

“Ya ndak ngapain-ngapain, Pak.”

“Baik, dosen kalian kurang bisa mengajar, kalian ndak ngerti materi kuliahnya, dan toh kalian ndak ngapa-ngapain, terus kalian ujian, dan tentu saja kalian dapat jelek karena tidak bisa menjawab sama sekali,” ujar saya. “Jadi kalian tahu sekarang apa rangkaian sebab-akibat yang menjadikan nilai jelek itu. Betul?”

Mereka manggut-manggut, rupanya mulai memahami cara saya mengajak bernalar dengan logis.

“Jadi begitulah,” saya menyimpulkan, “setiap kejadian selalu bisa dirunut akar masalahnya. Di tengah untaian sebab-akibat itu, selalu ada titik dimana kalian sebenarnya bisa merubah hasil akhirnya. Dalam kasus nilai jelek yang sangat mengenaskan tadi itu, sebenarnya kalian bisa berusaha sedikit lebih keras untuk memahami materi kuliah yang sulit itu, sekalipun dosennya tidak bisa mengajar dan materinya sulit. Kalian bisa tanya kakak kelas, atau belajar bersama, atau tanya Google, atau tanya dosen lain. Mungkin dengan demikian skor ujiannya masih bisa sedikit tertolong. Tapi karena kalian memutuskan untuk “ndak ngapa-ngapain”, ya sudah, demikianlah hasilnya.”

Mereka nampak mulai sadar dan paham.

“Satu hal yang cukup positif dari sifat individualis orang Barat,” demikian saya melanjutkan, “adalah bahwa mereka senantiasa mengembalikan semua kejadian–enak atau tidak enak–kepada diri mereka sendiri. Jadi, kalau mereka dapat nilai jelek dalam kuliahnya, mereka akan pertama-tama merefleksi diri sendiri: ‘apa yang sudah aku lakukan sampai mendapat nilai separah ini? Mungkin aku kurang berusaha, mungkin kurang membaca, mungkin kurang teliti,’ dan sebagainya. Jadi, mereka tidak serta-merta menyalahkan dosennya yang ndak becus ngajar, menyalahkan materinya yang sulit, dan sebagainya. Bahwa alur pemikiran mereka akan sampai pada hal-hal itu, ya bisa saja, namun pertama-tama mereka selalu menyadari bahwa apapun hasil yang mereka terima, tindakan mereka pasti telah berkontribusi pada terjadinya hasil tersebut.”

Jadi, pesan dari posting ini sederhana saja: pada setiap kejadian, selalu ada sumbangan kita terhadap kejadian itu. Pada untaian peristiwa yang menggiring pada kejadian itu, selalu ada pilihan-pilihan yang sebenarnya menjadi hak kita untuk memilih. Setiap pilihan yang kita ambil, pasti telah membantu mewujudkan hasil atau kejadian yang kita alami tersebut.

Semoga saya sudah menanamkan poin yang penting ini kepada ketiga mentee saya kemarin.

Posted in: Uncategorized