Si Pria Dalam Mimpi

Posted on June 3, 2011

0


Suatu peristiwa, hiduplah seorang wanita yang lelah mencari cinta kemana-mana tidak kunjung ketemu jua. Maka dia pun menghabiskan hidupnya sendiri. Temannya datang lalu pergi, selebihnya dia berteman sepi.

Sampai suatu ketika dia bermimpi. Seorang pria datang kepadanya dan mengajaknya berbincang-bincang. Hanya dalam waktu singkat, dia merasa suka dengan pria tersebut. Dengannya, dia bebas bisa ngomong apa saja, mulai dari bumbu dapur, diskon di mall, sampai pada kehidupan setelah kematian. Si pria pendengar yang baik, mendengarkannya dengan sabar, lalu menanggapinya dengan omongan yang mengesankan, atau sekedar membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Lalu dia terbangun.

Hidup kembali seperti biasa. Datar . . .

Malam berikutnya, dia bermimpi lagi. Tentang pria yang sama. Kali ini si pria mengajaknya berjalan-jalan. Mendaki bukit mereka berjalan, sampai ke puncaknya dan duduk begitu saja di bawah pohon. Nyaris tanpa bertukar kata, mereka menikmati pemandangan senja di kaki bukit dimana sejauh mata memandang hanya alam hijau berselimutkan sinar mentari senja. Si wanita sedemikian terhanyut oleh suasana itu sampai dia ogah bangun. Tapi toh dia harus bangun juga . . .

Malam berikutnya, si pria yang sama datang lagi. Si wanita ini mulai heran. Tapi toh dia tidak menyangkal bahwa dia mulai menikmati interaksi dengan pria misterius tersebut. Kali ini dia tanpa ragu mencurahkan perasaannya. Tentang hidupnya yang datar, tentang teman-temannya yang ceria tapi juga kadang membuatnya sebal, tentang kecemasan-kecemasannya, tentang musuh-musuhnya, tentang masa lalunya, tentang impian-impiannya. Seperti biasa, si pria mendengarkannya dengan penuh perhatian. Semakin dia merasa didengarkan, semakin gencar dia bercerita. Sampai akhirnya dia terbangun lagi . . .

Malam demi malam berlalu. Si pria selalu datang di mimpinya. Tak pernah sekalipun absen. Si wanita ini tanpa ragu mulai mengakui bahwa dia senantiasa merindukan kehadirannya, sekalipun hanya dalam mimpi. Dia mulai tak sabar menanti datangnya malam dimana kantuk menyerbu dan dia jatuh tertidur, hanya supaya si pria itu datang lagi ke mimpinya. Begitu bertemu, selalu ada saja kegiatan yang menyenangkan untuk dikerjakan bersama-sama: memancing di danau, bersepeda menyusuri pinggiran kota, ngobrol bahkan debat seru tentang life matters, memasak, main game di Internet, atau makan di warung tegal. . .

Ketika terjaga untuk kesekian kalinya, sang wanita bertanya-tanya apakah dia sedang jatuh cinta kepada si pria dalam mimpi itu.

Pikiran sehatnya mengatakan dia sedang gila, namun perasaannya mengatakan bahwa dia memang sedang jatuh hati, atau setidaknya sedang berbunga-bunga mendapatkan figur yang selama ini didambakannya namun tak pernah dijumpainya di alam nyata.

Beberapa malam, tidurnya terganggu karena suatu masalah yang menimpanya. Tidurnya tak nyenyak, dia terjaga berkali-kali dan sulit kembali jatuh tertidur. Dengan sendirinya, si pria pun tidak sempat muncul dalam tidur sekejap itu. Dia merasa ada sesuatu yang hilang. Dia bangun dengan badan capek dan kerinduan makin mendera.

Karena lelah dan tak tahan menanggung kangen, suatu malam dia nekat menenggak obat tidur. Dia langsung pulas, dan . . . si pria yang menyenangkan itu datang kembali menemuinya.

“Kamu kemana aja?” katanya dengan senyum. “Sibuk?”

“Tidak!” sahutnya cepat. “Aku setengah mati ingin tidur, namun tak kunjung bisa. Aku —“ kata itu tak terucap. Dia ingin sekali mengatakan “rindu”, namun entah kenapa terhenti begitu saja di ujung lidahnya.

Namun si pria itu membaca matanya dan dengan penuh pengertian menganggukkan kepalanya tanda dia memahami perasaannya.

Lalu tiba-tiba dia mengulurkan tangannya. Sang wanita ragu sejenak, tapi toh tangannya terulur dan mereka pun bergandengan. Itu untuk pertama kalinya mereka bersentuhan setelah sekian puluh malam.

“Aku mau mengajakmu ke suatu tempat yang indah,” katanya. “Mau?”

Si wanita mengangguk. Dan mereka pun berjalan, setengah melayang, mendaki bukit, menuruni lembah, menyusuri sungai jernih, jauh, jauh sekali.

Ketika mereka akhirnya behenti, yang terhampar di depan mata mereka adalah pemandangan setengah langit setengah dataran. Indah. Terangnya matahari sangat kuat, namun tidak menyilaukan sama sekali. Hangat dan nyaman, ditingkahi angin semilir.

“Ini sudah jauh,” kata si pria itu. “Kamu pasti capek. Tidak inginkah kamu kembali? Aku akan terus.”

“Ndak,” sahut si wanita. Lalu, kali ini tanpa malu-malu lagi, dia meneruskan: “Aku ikut . . .”

Si pria mengeratkan pegangan tangannya yang sempat mengendur sedikit. “Baiklah,” katanya.

Dan mereka pun bergandengan tangan melanjutkan perjalanan. . . .

* * *

Pagi menjelang. Teman si wanita mendapati si wanita itu masih tertidur pulas. Pagi makin tua dan siang pun menjelang. Belum bangun juga si wanita itu. Sang teman yang khawatir membuka selimut yang setengah menutupi wajahnya, dan dia pun menjerit.

Si wanita itu sudah tidur teramat nyenyak. Lelap dalam keabadian.

*) Posting ini didedikasikan untuk seseorang . . .

Posted in: Uncategorized