Bunuh Diri

Posted on June 3, 2011

2


Pak H, kolega yang sedang studi di luar negeri, mengajukan pertanyaan di FB nya: :”apa pendapat Anda tentang tindakan bunuh diri?”

Saya menjawab bahwa tindakan itu hanyalah milik orang-orang yang merasa sudah sangat sendirian, kesepian, dan sudah tidak lagi melihat setitikpun harapan untuk suatu penyelesaian bahkan satu detik ke depan sebelum hidupnya berakhir. Semua gelap. Sendirian. Ndak heran jalan paling masuk akal ya bunuh diri.

Pak H menggiring saya pada pertanyaan tentang budaya. Apakah faktor budaya bisa menyebabkan orang bunuh diri?

Saya jawab: “Mungkin juga, Pak. Tapi sekarang, mana ada budaya yang menganjurkan bunuh diri. Setahu saya kok ndak ada.”

“Ada,” jawabnya. “Di Jepang kan ada seppuku dan harakiri”.

Ya, betul juga. Namun setahu saya kedua jenis tindakan itu dilatarbelakangi oleh alasan yang sangat masuk akal–well, setidaknya ya dari sudut pandang mereka yang sudah lahir dalam budaya itu–yakni kehilangan harga diri karena merasa telah melakukan suatu kesalahan besar yang tak terampunkan oleh bangsa dan negaranya. Di Jepang juga ada budaya ‘kamikaze’ yang sangat terkenal di kalangan pilot-pilot Jepang yang dengan sengaja menabrakkan peswatnya ke kapal musuh pada Perang Dunia II. Alasannya juga sangat masuk akal: daripada salah satu dari kita yang mati, ayo mati sama-sama aja. Itu lebih baik daripada aku yang mati dan kamu tetap hidup.

Lalu Pak H menyajikan banyak data statistik yang menunjukkan kecenderungan meningkat di kalangan orang usia relatif muda untuk mengakhiri hidupnya. “Apa reaksimu?” dia bertanya.

Saya jawab: “Sad. Appalled. Flabbergasted”. Sedih, tercekam dan tidak habis pikir.

Itu menimbulkan kecurigaan dalam diri saya bahwa budaya nampaknya sedang terus berubah. Budaya itu meyakini bahwa hidup tidak lagi sepadan dengan upaya untuk bertahan dan menikmatinya, jadi ya lebih baik diakhiri saja.

Sempat timbul dalam pikiran saya, sebagaimana yang saya katakan kepada Pak H, bahwa itu gejala “monkey see, monkey do”. Manusia saling meniru satu sama lain. Satu bunuh diri, lainnya berpikir: “Hmm, cool juga membunuh diri seperti itu!”, lantas mereka pun ikut-ikutan bunuh diri. Maka tidak mengherankan dalam beberapa tahun terakhir, bukan hanya tindakan itu yang ditiru, tapi juga caranya, yaitu melompat dari lantai teratas di mall ke lantai paling dasar. Hmm, mungkin setengahnya mereka masih ingin orang lain memperhatikan lompatannya menuju kematian. Barangkali semangat pingin ngetop sekaligus agak narsis juga masih melekat di diri mereka yang bunuh diri dengan cara itu.

Kasus bunuh diri yang mengguncang pikiran saya ada dua: satunya dilakukan oleh seorang kerabat yang terjerat hutang, satunya oleh Kurt Cobain, lead singernya band Nirvana yang sangat populer di pertengahan 1990an. Kasus kerabat saya itu barangkali bisa dimengerti karena dia sudah tak berdaya lagi mau membayar hutang, tapi Kurt Cobain? Ngetop, kaya, jenius bermusik, punya anak dan istri, eh, nekad juga menembak kepalanya sendiri. Kenapa? Dia bilang dalam salah satu suratnya sebelum mati: “Saya sudah bertahun-tahun tidak bisa lagi merasakan kenikmatan dalam bermusik.” Kalau kita simak lirik lagu-lagunya, memang selalu menyiratkan hati yang sedih, kelabu, muram, sinis. Ya sudah, mungkin otaknya memang sudah hard-wired untuk membunuh diri. Ada yang bilang dia begitu sejak perceraian kedua orang tuanya (nah, makanya ati-ati yang mau married; sekali salah pilih akibatnya bisa fatal untuk anaknya nanti). Saya pernah lihat fotonya waktu masih kecil. Cute, ceria dan nampak berbakat. Sayang sekali setelah dewasa dia berakhir dengan tragis seperti itu.

Sudahlah, jadi untuk Pak H, pendek kata saya tidak tahu jawabannya. Saya tidak pernah atau belum pernah berpikir untuk bunuh diri. Maka saya juga tidak tahu apa yang berkecamuk di pikiran seseorang yang mau bunuh diri.

Posted in: Uncategorized