Malas

Posted on June 1, 2011

0


Di mentoring terakhir semester ini saya tanya ketiga mentee saya: “apa kelemahan yang kalian rasakan masih menghinggapi di semester ini?”

Ternyata ketiga-tiganya menjawab bahwa mereka masih sering malas kuliah. Satu bilang malas karena dosennya nggak enak ngajarnya; satu lagi bilang alergi begitu melihat folder skripsi di PC nya, dan satu lagi bilang malas soalnya yang didapat dari kuliah nggak penting buat kehidupan nyata.

Saya hampir saja memberikan ceramah panjang lebar tentang bagaimana rasa malas bisa menghancurkan diri. Namun ketika ceramah itu sudah di ujung lidah, mendadak saya terpikir prinsip ini: “jangan pernah menceramahi mentee kalau kamu sendiri belum bisa bebas dari rasa malas.” Saya ingat-ingat lagi, hmmm….. ternyata saya akui bahwa kadang-kadang saya juga merasa malas untuk mengerjakan sesuatu. Jadi saya langsung ndak jadi menceramahi, tapi kemudian bertanya:

“Apakah rasa malas kuliah ini akan berdampak pada karir kalian nanti di dunia nyata setelah lulus dari Ma Chung?”

TIga-tiganya menjawab dengan nada sama:

Tidak, karena saya dibayar, jadi saya niat;

Tidak, karena apa yang saya lakukan di karir saya sudah menjadi niatan saya.

Bapak sendiri bagaimana?

Maka saya pun mengaku. “Ya, terus terang malas bisa menghinggapi, ndak perduli mahasiswa atau mentor; tapi memang harus ada unsur memaksa diri. Kalau ndak begitu, yang namanya tugas atau kewajiban tetap saja bercokol disitu, nggak akan selesai-selesai dan malahan bisa membuat kita stress kalau dibiarkan tidak disentuh dan mulai digarap”.

Saya berikan contoh pengalaman pribadi saya mengerjakan sesuatu yang sebenarnya malas saya kerjakan. Mereka manggut-manggut dan nampak memahami.

Jadi kesimpulannya, mentor maupun mentee bisa terserang malas. Tapi satu pelajaran yang saya ambil dari dialog singkat di atas adalah: selama masih mempunyai kelemahan yang sama, lebih baik seorang mentor tidak berceramah panjang lebar menasehati menteenya. Percuma kalau dia sendiri tidak walk the talk (melakukan apa yang dikhotbahkan). Lebih baik bersama-sama mengakui kelemahan itu dan membagikan pengalaman bagaimana mengatasinya. Yah, mentor manusia juga kan? Bedanya dengan menteenya hanya dari segi usia. Pengalaman? Yaah, bisa jugalah; tapi sebenarnya kalau dia belum bisa lepas dari kelemahannya, mau pengalaman sampai ribuan kali pun tetap ndak ngefek. Jadi lebih baik dia berkaca pada menteenya dan saling sharing pengalaman.

Posted in: Uncategorized