Kritik Ngawur bin Ego Besar

Posted on June 1, 2011

0


Saya paling tidak suka orang yang hanya bisa mengkritik tanpa mau mengusulkan atau setidaknya memikirkan solusi.

Orang seperti ini maunya menemukan cacatnya suatu kebijakan atau pemikiran, terus ditinggal begitu saja. Kalau sudah begitu, saya jadi tak terhindarkan lagi berburuk sangka terhadap dia. Saya langsung berpikir bahwa sikapnya itu dilandasi rasa cemburu, iri hati, atau ya pokoknya tidak suka dan mau menghancurkan sistem.

Seperti yang terjadi sore ini ketika rapat. Dia membandingkan pendidikan di Barat dan di Asia. Di Barat orang nggak usah diancam nilai sudah mau kerja sendiri, di Asia orang harus diiming-imingi nilai, baru mau kerja. Jadi, dia bilang, pendidikan yang memberikan kebiasaan tes dan skor itu sebenarnya keliru.

Lho?

Kan sebenarnya sudah jelas sekali betapa ngawurnya pikiran seperti ini. Coba, kalau saya tanya begini bagaimana:

Satu: “Hei, Anda itu hidup di Barat atau di Asia?”
Dua: “Ok, terus kalau gitu maunya bagaimana? Apa kita ndak usah pakai tes sepanjang semester? Nggak ada nilai? Terus sistem yang mewajibkan kita memberikan nilai apa mau dilanggar begitu saja?”

Tapi, seperti sudah saya tulis di atas tadi, orang seperti ini kan maunya hanya mengkritik. Begitu disuruh mikir solusinya bagaimana, dia pasti menghindar atau balik berargumen semakin ngotot tapi semakin jauh dari solusi.

Orang seperti ini biasanya adalah orang yang merasa egonya terancam, dan dia keluarkan semua jurus sak ngawur-ngawurnya hanya untuk mempertahankan egonya. Ini berbahaya. Tapi ya sudah, kampret macam begini ya mau ndak mau sudah jadi bagian dari institusi ini, jadi ya saya harus lebih cerdik untuk mengatasinya. Tentu saya punya caranya, tapi tidak akan saya beberkan disini mengingat blog ini semakin lama semakin populer dibaca oleh orang yang suka maupun yang benci sama saya.

“Saya kira tes itu tetap perlu,” kata saya, kali ini sungguhan saya katakan ketika rapat tadi. “Karena tes itu memberi informasi kepada kita para dosen sudah sejauh mana pembelajaran yang kita lakukan itu efektif.”

Untuk mentee-mentee saya (well, setidaknya saya tahu satu mentee perempuan yang tidak pernah absen membaca blog mentor kesayangannya ini), sikap pengkritik yang dikendalikan ego liar itu jangan ditiru. Kamu tidak suka terhadap sebuah sistem itu boleh, kamu mau mengkritik lebih bagus lagi, tapi ingat bahwa semua itu harus dilandasi oleh hati yang tulus dan niat baik untuk menjadikan sistem itu lebih baik. Untuk itu, selain mengkritik kamu juga harus memikirkan jalan yang lebih baik. Kritikanmu juga harus disampaikan dengan tegas tapi tidak agresif, dituntun oleh alur pikiran yang logis dan bukan sekedar asal bunyi dan pokoknya asal berbeda dengan kebijakan yang sudah ada.

Selesai rapat itu, menjelang malam si HS, laoshi dari Tiongkok itu, ngudal rasa sak udal-udalnya (ngudal rasa = curhat) di BB chat. Wuih, gendheng wis, semua keluar bak muntah karena mabuk laut! Sekarang penyebabnya lain. Yang dia curhatkan adalah orang-orang yang hanya mau mendengar yang baik-baik saja, ogah atau bahkan marah ketika dilapori hal yang jelek atau kurang baik. Saya sampai kewalahan mau membalas saking gencarnya dia bercurhat di BB. Ya sudahlah, saya dengarkan saja dulu.

“Ok, I’m hearing you,” kata saya. “Let me think of an elegant way to make them see the real facts.”

Yah, untuk ini ceritanya disambung lain kali di posting berikutnya.

Posted in: Uncategorized