Uneg-Uneg Bakal Calon Rektor

Posted on May 23, 2011

4


Jumat kemarin saya memimpin rapat Tim Reviewer Antologi. Duduk di depan saya adalah orang-orang pinter, semua bergelar Master, beberapa Doktor dan minimal satu profesor. Maka gaya saya memimpin rapat adalah gaya Tut Wuri Handayani: saya lemparkan agenda rapat, kemudian mendengarkan satu persatu pendapat bahkan argumen beberapa dari orang-orang pinter itu, dan dengan cepat mengambil keputusan yang saya upayakan selalu win-win solution. Hanya satu yang saya agak merasa kurang nyaman disitu, yaitu istilah “selingkung”, maksudnya: gaya penulisan yang sama, satu lingkungan, begitulah. “Apa tidak ada istilah lain sih??” akhirnya saya pun nyablak saking gak tahan. “Kenapa mesti selingkung? Saya ndak suka kata itu karena mengingatkan pada kata yang sama tapi berakhiran “-h”, bukan “-ng”. Kontan yang hadir tertawa terbahak-bahak. Tapi begitulah, “selingkuh”, tidak enak sekali didengarnya. Ya kalau mau sayang orang lain ya sayang aja, tapi jangan selingkuh. Lho gimana caranya? Ya. . . ya gitu deh . . . . (setengahnya ndak ngerti juga gimana, ha ha haaa! )

Bukti bahwa Anda overloaded dengan beban kerja adalah ketika Anda mendadak pikun bahkan untuk urusan yang paling sepele. Saya mengalaminya beberapa minggu yang lalu. Di tengah-tengah beban yang begitu padat, saya setengahnya mendesak pimpinan Universitas untuk segera mengakhiri rapatnya karena ruangnya mau saya pakai. Begitu beliau bertanya: “Bapak nanti rapat apa?”, saya malah bingung sendiri dan hanya terdiam sesaat. “Rapat . . . . rapat apa yaaaa?”. Lhaa, itu pertanda bahwa saya sudah kelebihan tugas. Grrrr . . . .!

Rekan kerja saya di DPM pun bernasib sama. Siang ini ketika saya mampir di kantornya (istilah yang aneh: wong mampir kok mampir di kantor sendiri?), dia bertanya apakah dia sudah mengirimkan satu e-mail tertentu kepada saya dan dosen-dosen lainnya. Saya sampai bilang beberapa kali bahwa dia sudah mengirim. “Lha ini sudah ada di inbox saya,” kata saya. Kasihan, rupanya overloaded juga dia sampai lupa bahwa dia sudah mengirimkan e-mail tersebut.

Tahun ini nampaknya rekan kerja saya itu mau mendapat tambahan pasukan di kantornya. Memang sudah saya rencanakan dan untung pimpinan tertinggi juga nampaknya merestui. Tapi entah kenapa dia nampaknya tidak terlalu happy saya mau hengkang dari kantornya. Dalam hati saya juga agak heran sebenarnya, apa yang disukai dari seorang atasan yang pendiam setengah mati kayak gedebhok pisang seperti saya, ha ha haaaa!

Besok hari besar. Nasib yang makin ndak karuan ini mentakdirkan bahwa saya harus kampanye di depan segenap civitas akademika sebagai calon Rektor. Biyuh, ngimpi apa yaa saya jadi bakal calon Rektor ini?? Tapi ya sudahlah, kan sudah saya bilang ini suratan takdir. Apakah saya persiapan? O ya, pasti, lihat aja posting saya sebelumnya. Itu pertanda saya benar-benar serius mempersiapkan diri. Apakah saya grogi? Ndak juga tuh, buktinya menjelang petang saya malah asyik texting sama Pamela, mentee saya, dan BB chat sama Huang Shiru yang lagi excited karena ditanggap sama penduduk Blitar untuk menari jaipongan, eh, maksudku, mengajar Mandarin disana. Satu bukti lagi bahwa saya tidak grogi adalah: saya tetap insomnia, dan malam ini bukannya menyiapkan pidato untuk kampanye besok tapi malah mblogging. Hajaaaaaarrr bleh! Yia ha ha haaaaa!!

Posted in: Uncategorized