Reuni SMP di BB Grup

Posted on May 19, 2011

2


Saya bukan orang yang suka bernostalgia di masa-masa sekolah menengah. Makanya saya juga tidak terlalu antusias mengikuti kegiatan alumni di SMP atau SMA saya. Nostalgia memang menyenangkan, tapi cukuplah sebatas saling menyapa kalau sedang senggang lewat FB atau BB. Buat saya, masa kini dan masa depan jauh lebih menantang untuk digeluti, diciptakan, dan dimenangkan.

Nah, tapi dua hari yang lalu saya tidak bisa menghindar ketika seorang teman SMP dulu menemukan saya lewat jaringan pertemanan di FB, dan entah gimana tahu-tahu pin BB saya sudah diketahuinya, dan saya pun merasa wajib menerimanya di BB chat. Setelah chat beberapa saat, dia mengajak saya masuk ke grup BBM alumni SMP saya (saya alumni SMPK Santa Maria II). Setengah agak sungkan, saya masuk menerima ajakannya.

Ternyata sambutan teman-teman saya di grup itu cukup heboh. Yang membuat saya heran adalah mereka seolah menganggap saya makhluk aneh, semata-mata karena pofesi saya sebagai dosen dan gelar Profesor saya. Saya baru sadar bahwa tidak ada satupun dari mereka yang berprofesi sebagai dosen; rata-rata pengusaha dan karyawan kantoran.

“Masak Patris jadi profesor hanya ngajar bahasa Inggris?” kata seseorang. Saya tertawa geli; mungkin dia pikir kalau ‘hanya’ ngajar bahasa Inggris mah gak usah sampai jadi Profesor.

Mereka mengetes saya apakah masih ingat mereka satu persatu. Maklum, sudah 30 an tahun yang lalu setelah kami masuk SMP tahun 1980 dan lulus tahun 1983! Herannya, dengan jitu saya bisa mengenali mereka satu persatu. Rasanya seperti kembali ke jaman dulu, dan langsung ingat si A yang dulu papanya juga guru, si B yang teman sebangku saya, si C yang paling cantik, si D yang pernah berkelahi sama saya di parkiran sepeda, bahkan sampai alamat rumah mereka pun saya masih ingat. Ajaib. Benar lah kata Deepak Chopra, bahwa itu adalah bukti bahwa jiwa itu ada, dan jiwa memang tidak mengenal waktu. Ingatan sedahsyat itu pasti tidak mungkin dipicu oleh lompatan sinaptik antar neuron dalam otak, karena sel-sel otak saya kan juga pasti tidak sama dengan 30 tahun yang lampau. Ibaratnya bits dalam hard disk, pasti sel-sel saya yang dulu sudah terhapus dan tertindih oleh ingatan-ingatan lain. Hanya jiwa yang bisa menjelaskan ingatan yang mencengangkan itu.

Si teman saya yang mengundang tadi mengingatkan bahwa grup itu heboh sekali. Saya baru merasakan betapa benarnya dia ketika denting chat yang masuk ke BB saya nyaris tidak berhenti, bahkan sampai malam tiba. Grup itu benar-benar rame. Kebanyakan nadanya guyon dan saling olok antar mereka; saya menimpalinya sesekali, dan satu kali saya bilang “diamput!” karena ada olokan yang pas sekali buat saya, ha ha haa!

Tapi menjelang hari kedua, guyonan itu mulai terasa keterlaluan. Bayangkan, mereka mengirim foto-foto dan stiker-stiker yang, maaf, cabul! Masa ada gambar seorang pria tanpa sehelai benangpun di tubuhnya lagi berenang, terus dikomentari gila-gilaan. Lalu ada tulisan “Awas Listrik Berbahaya. Matikan Saja!”, tapi dengan huruf “L” dan “K” di kata ‘listrik’ itu dicoret, sehingga bunyinya menjadi “Awas Istri Berbahaya. Matikan Saja!”. Dan masih banyak lagi gambar ngeres yang membuat saya jadi mulai mual. . .

Hmm, saya suka guyon, saya suka sekali tertawa terbahak-bahak (sampai harus minta maaf ke Pamela karena keterlepasan tertawa ngakak mendengar cerita seorang rekan dosen di Gotong Royong minggu lalu), tapi saya tidak suka guyonan cabul. Buat saya, seks itu suci, apalagi istri; hubungan intim juga akan terasa indah dan sacred jika dimaknai secara tepat dan pada konteks yang agung, ndak kemudian diumbar-umbar jadi bahan guyonan seperti itu. Saya beruntung bekerja di lingkungan Ma Chung. Entah bagaimana, komunitas ini seperti anti guyonan cabul. Coba deh kalau ndak percaya lemparkan joke cabul di kelas atau waktu meeting, pasti ndak ada yang ketawa!

Karena foto-foto dan stiker itu makin menjadi, saya pun dengan sangat terpaksa menekan button “Leave Group” pada BB saya, setelah minta maaf dan permisi ke teman yang mengundang tadi. Dia nampaknya maklum, dan tetap meminta saya tetap menjalin kontak sekalipun sudah meninggalkan grup chat itu.

Lalu saya merenung. Apakah karena profesi saya sebagai guru maka saya tidak merasa nyaman dengan guyonan macam begituan? Bayangkan, mentor, guru, dekan, direktur QA suka guyonan parno. Ndak ah! Atau. . . . apakah karena usia saya? Ah, nggak juga, buktinya teman-teman saya itu juga pada usia 44 an tahun kayak saya sekarang.

Ok deh, yah ndak mengapa juga, barangkali hanya masalah beda selera. Keinginan saya untuk menjalin social networking lewat grup BB pun kandas. Tapi toh saya masih menyimpan beberapa pin BB mereka. Siapa tahu suatu saat saya perlu mempromosikan Fakultas atau ELTISI Ma Chung, saya masih bisa menghubungi mereka untuk bicara bisnis tanpa tawa ngeres. . . .

Posted in: Uncategorized