Saya Membunuh Enjoy Myself

Posted on May 17, 2011

4


Tiga hari yang lalu saya membunuh Enjoy Myself di Facebook. Sebabnya sederhana: ada seorang friends yang bilang bahwa sebagai seorang pria dengan usia seperti saya, dengan gelar dan jabatan seperti saya, saya dinilai terlalu banyak ngocol di FB. Yang lebih gawat lagi: dia mengatakan bahwa terlalu banyak nama wanita di page FB saya.

Saya tipe orang yang memperhatikan setiap kritik dengan sangat hati-hati. Rasa tidak enak itu jelas ada, buktinya saya langsung venting off (=curhat) kepada seorang kolega dan mahasiswa. Tapi setelah itu saya mencoba introspeksi, karena saya sendiri pernah mengatakan bahwa kritik itu seperti pupuk: bau dan kotor tapi kalau kita bijak memakainya, maka kita akan berkembang menjadi lebih subur dan lebih baik.

Pertama, saya tanya kolega dan mahasiswi itu bagaimana mereka memandang FB saya. Mereka bilang oke-oke saja, bahkan merasa senang dengan celetukan saya yang kadang aneh, sinis, tapi membuat tertawa, merasa mendapat inspirasi dari ungkapan-ungkapan bijak, dan merasa mendapat informasi dari link-link yang saya berikan ke sumber-sumber bacaan yang memang menambah wawasan.

Intinya, mereka menyayangkan kenapa saya harus membunuh Enjoy Myself.

Jadi setelah mereka mengungkapkan hal itu, Enjoy Myself tetap mati. Saya bertekun di akun baru yang namanya sangat plain dan biasa ajah: Patrisius Djiwandono. Eh, baru juga sehari sudah ada dua komen di akun baru itu yang menyayangkan kenapa saya tega menghabisi Enjoy Myself, dan mengharapkan dia kembali.

Saya berpikir lama setelahnya. Saya mulai tahu bahwa disamping orang-orang dan bahkan rekan-rekan Ma Chungers yang muak dengan status saya, ternyata ada juga beberapa yang merasa kehilangan. Saya pikir ulang kritikan awal yang membuat saya mematikan Enjoy Myself, dan saya sampai pada kesimpulan bahwa pendapatnya terlalu subyektif, sangat biased dan mungkin dilatarbelakangi kecenderungan tertentu terhadap saya.

Maka setelah berpikir panjang, malam kemarin saya hidupkan kembali Enjoy Myself. “I’m baaaack” katanya segera setelah dia hidup kembali, disambut dengan setidaknya tiga komentar yang menghura-hurakan kehidupannya kembali.

Mentee saya yang terdekat pernah mengatakan dulu bahwa status-status saya cenderung vulgar, dan saya berterima kasih sekali atas kritikan itu dan langsung saya ubah isi status saya menjadi jauh lebih inspiratif, walaupun kesan nakal dan kadang-kadang ngawur, sarkastis dan sinis masih banyak kali mewarnai status itu.

Saya juga jadi tahu siapa-siapa di antara friends saya yang merasa tidak suka dengan Enjoy Myself. Hebatnya, mereka ini Ma Chungers semua; orang-orang yang kalau ketemu dengan saya di kampus sangat sopan, sangat kooperatif dan bermanis muka. Yah, saya paham. Ini tanah Jawa, muka manis di depan bisa sangat lain dengan ketika muka itu sudah berada di balik punggung saya.

Akun FB saya di Patrisius Djiwandono sangat sopan, sangat formal, bahkan cenderung monoton. Tapi ini alter ego yang bisa mengimbangi Enjoy Myself yang lebih spontan, lebih narsis dan lebih ‘menyebalkan’. Ya sudah, biar saja keduanya hidup di alam Facebook. Yang jelas, di Patrisius Djiwandono saya sangat selektif mengabulkan “Request Friends”, karena saya mulai tahu siapa-siapa yang potensial membuat perasaan tidak nyaman dengan kesebalannya terhadap saya. Friends saya di Patrisius Djiwandono jauh lebih sedikit; bahkan mentee saya pun tidak semua disitu. Saya juga tidak mau me request friend bahkan untuk para Ma Chungers atau orang lain yang ada di Enjoy Myself. Prinsip saya, kalau memang ada yang berminat menjadi friends dan it is meant to be, dia akan mengirimkan friend request dan saya akan langsung menekan “Confirm”.

Demikianlah, Facebook sudah menjadi negara tersendiri, lengkap dengan segala undang-undang, etika, dan peraturannya. Mau tak mau dan malu tak malu, kita sebagai rakyatnya harus mau mematuhinya.

Posted in: Uncategorized