Dialog antara Dosen dengan Mantan Mahasiswi S2 nya tentang Ateis

Posted on May 12, 2011

0


Ini adalah chat YM antara saya dengan seorang mantan mahasiswa, seorang staf di sebuah lembaga pendidikan di Surabaya. Kami berdebat tentang apakah Tuhan mendengarkan atau membantu orang atheis:
======================================================================
PID = saya; MS = mantan mahasiswi.

PID: . . . . begitulah, saya tidak heran kalau doanya tidak didengarkan, karena mereka kan atheis? Tuhan mana kenal orang atheis?

MS: Setiap orang punya jalan hidupnya masing2. Kalaupun mereka atheis tapi mereka hidupnya berguna bagi masyarakat ya Tuhan masih memandang dan memberi kesempatan. Lagian hidup dan mati semua ada ditangan Tuhan, bukan dokter atau siapapun.

Setiap nyawa memiliki harga jadi usaha harus tetap ada. Memang benar bahwa tubuh kita hanyalah wadah dan kita semua adalah roh tetapi tanpa tubuh sulit bagi kita untuk melakukan banyak hal.

PID: Wow! Tapi saya ndak melihat itu di mereka; dulu kamu juga bilang bahwa mereka yang tidak berbuah akan dibuang ke api; ranting2 yang gak berbuah akan dibuang ke api.

MS: Yang bapak lihat adalah dari sisi bapak dan banyak orang lain. Tetapi mungkin ada sisi yang belum Bapak lihat.

PID: ya benar juga; tapi setidaknya dari apa yg saya lihat, saya tidak melihat ada kepasrahan dan kerelaan disana; tidak ada berserah kepada Tuhan dan membiarkan Nya berkarya.

MS: Ya karena kan mereka atheis. Itu hal yang wajar bagi mereka.

PID: Wong sudah dibaptis dalam nama Yesus kok memungkiri Yesus; ya marah to Yesusnya, atau setidaknya tanya begini: “Lho, kamu siapa kok tau2 minta tolong ambek Aku?”

MS: Ya kita tidak akan pernah tau apa yang mereka pikir dan rasakan jadi ya tetap saja kita tidak dapat menghakimi. Yang mampu melakukan itu semua adalah Tuhan. Sama halnya dgn seorang pendeta. Disini ada yg cukup terkenal tp sombongnya minta ampun. Anaknya diamuk didpn mata saya. Sy cmn diam tp stlh dia pergi saya menenangkan anaknya. Sampai sekarang anaknya sungkan sekali sm sy dan tmn2nya. Apakah orang tsb akan masuk surga? Apabila dia sakit pun dia pasti masih percaya bahwa dirinya akan ditolong. Tp itu kan pandangannya. Mungkin bagi bbrp orang dia adalah pendeta yg baik, terkenal, populer. Tp bagi saya tdk demikian. Lalu siapa yg menentukan dia salah atau tidak. Ya hanya Tuhan yang tau.

PID: Ya, betul; tapi kan dia masih percaya Tuhan; Tuhan pasti akan menegurnya nanti; tapi lha kalau orang ndak percaya Tuhan? Gimana? Tuhan is not in their belief system. You cannot hope from something you dont believe. Hayoooo. . . . gimana hayooo….

MS: Maaf bentar ada murid baru selesai.

PID: O ya gak papa. Ntar muridnya tak santet aja supaya ndak nggangguin kamu lagi chat ma saya, ha ha ha!

MS: Maka dari itu saya katakan semua kembali ke pribadi lepas pribadi. Sama halnya Tuhan, Ia juga akan melihat apa yang telah mereka lakukan di dunia. Dan tidak mungin asal lempar ke neraka gt aja.

PID: Kalau gitu gak ada bedanya dong ateis sama nggak? Gak seru ah! Ha ha haa! “Hanya Aku jalan menuju keselamatan”; lha kalau kepada Dia aja ndak percaya, mana mau selamat? Hayoooo….

MS: Ya terserah saja tapi juga ada tertulis ‘yang pertama belum tentu yang terpilih’. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk percaya. Semua itu butuh proses. Semakin dipaksakan akan semakin menjauh.

======================================================

Chatting terputus karena dia harus mengantar muridnya sementara saya harus kembali bekerja. Tapi dialog ini begitu mengesankan, terutama karena menantang pandangan saya tentang dikotomi hitam putih: ateis neraka, spiritualis surga. Menarik sekali. Saya beruntung punya mantan mahasiswi seperti dia yang tidak segan dan sungkan meladeni debat dengan mantan dosen S2 nya. Kereeeenn!

Malam sebelumnya saya BB chat sama seorang mahasiswi juga, tapi yang ini masih S1, sedang nulis skripsi di bawah bimbingan saya. Kami bicara masih tentang hal yang sama: orang ateis tidak punya nilai di mata Tuhan, sama seperti Tuhan juga tidak ada nilainya di mata mereka. Akan saya posting di posting berikutnya!

Posted in: Uncategorized