Tuhan, Stroke, dan Ngacir

Posted on May 10, 2011

0


Kemarin saya mau muntah saking banyaknya pekerjaan. Rapat senat, urusan ELTISI, KPI Dekan yang belum tuntas juga, bimbingan skripsi, urusan Penjaminan Mutu. Sekilas tergoda untuk menulis surat pengunduran diri, tapi langsung saya batalkan dan saya bunuh pikiran itu. Tidak, saya tidak mau mengundurkan diri sekalipun pontang-panting tidak karuan. Kan lucu saya mengutuki orang-orang yang belum selesai jabatannya sudah ngacir kok sekarang saya sendiri mau ngacir.

Ada tulisan unek-unek mahasiswa di Bhakti Persada. Ada e-mail juga undangan ke pertemuan membahas isu-isu krusial. Saya memandang dan membacanya dengan tanpa emosi. Dingin. Lagipula tidak ada satu pun isu krusial yang tidak bisa saya jawab. Saya yakin pimpinan Universitas dan saya sudah tahu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak menggetarkan. Saya tidak tergetar sama sekali.

Yang paling menyedihkan hari ini adalah sms Pamela jam 6 pagi. “Pak, saya tidak bisa masuk hari ini karena Mama saya masuk rumah sakit”. Oh, no!

Maka sesi mentoring siang ini jam 12 saya mulai dengan mengajak semua mentee berdoa untuk kesembuhan Mamanya Pamela.

Hari ini kami membahas pertanyaan sulit: “kenapa orang yang percaya kepada Tuhan malah lebih sering menderita daripada mereka yang tidak percaya?”. Ternyata nyaris semua jawabannya sama: karena Tuhan sayang sama orang beriman, sehingga Dia tidak segan melatihnya melalui cobaan supaya iman orang itu lebih kuat.

Saya bisa membayangkan orang ateis yang kritis pasti akan menghantam jawaban ini habis-habisan. Tanpa usah menjadi ateispun, saya bisa kok menyerang jawaban seperti itu. Tapi ya sudahlah, namanya juga iman, mana bisa diperdebatkan dan dinalar-nalarkan dengan nalar manusia yang terbatas ini?

Kenapa saya malah blogging di siang bolong kayak gini? Sederhana: saya ngantuk berat, dan hanya blogging yang bisa membuat mata saya tetap melek.

Posted in: Uncategorized