Kalimat dengan Logika Bengkok

Posted on May 1, 2011

2


Ketika mendengarkan orang berbahasa, kadang-kadang saya geli sendiri karena logika bengkok dalam tutur kata mereka. Ini beberapa di antaranya:

“Aduh, saya lupa membawa ponsel saya!”

Komentar: kalau lupa, dia tidak akan ngomong apapun. Namanya juga lupa, iya toh? Nah, seharusnya dia mengatakan begini: “Aduh, saya baru ingat ponsel saya ketinggalan di rumah”.

“Kami akan memperbaiki kelemahan ini.”

Komentar: pantas saja kelemahannya masih tetap ada, dan malah tambah menjadi-jadi. Kenapa? Ya karena dia mengatakan kelemahan itu diperbaiki, jadi yang dulunya lemah tambah lemah lagi. Ha ha haa! Seharusnya dia mengatakan begini: “kami akan mengurangi atau menghilangkan kelemahan ini”.

Yang satu ini saya dengar diucapkan di panggung waktu MCF 2009:

“Tujukan sasaranmu pada bulan; kalau gagal mencapainya, setidaknya kau masih akan jatuh ke bintang.”

Komentar: BUseeett! Kesalahan segitu gedenya kok ya ndak nyadar ya? Padahal yang ngomong seorang Doktor lho. Apa dia tidak tahu bahwa bintang itu lebih jauuuuuhh daripada Bulan? Kita memerlukan waktu tiga hari naik roket untuk sampai ke Bulan, dan memerlukan waktu jutaan tahun dengan roket berkecepatan cahaya (300.000 km/ DETIK) untuk sampai ke bintang terdekat.

Terus yang ini:

“Untuk mempersingkat waktu, kita akan segera mengundang pembicara pertama.”

Komentar: apa iya waktu bisa dipersingkat? Yang mestinya 1 menit 60 detik menjadi hanya 30 detik? Rasanya ndak bisa deh. Maka, seharusnya pertanyaan itu berbunyi demikian: “untuk mempersingkat acara, kita akan segera mengundang pembicara pertama.”

“Mahasiswa yang merasa belum mendapat buku panduan harap segera berhubungan dengan Sekretaris kami”

KOmentar: Gawat benar, disuruh berhubungan! Kasihan sekretarisnya dan enak sekali mahasiswanya! Seharusnya, kalimat itu berbunyi: “mahasiswa yang merasa belum mendapat buku panduan harap segera menghubungi Sekretaris kami”.

“Setelah buang air kecil, harap disiram sampai bersih”

Komentar: ini kejam sekali! Jadi maksudnya, setelah kita buang air kecil, kita harus meminta penjaganya untuk menyiram badan kita sampai basah kuyup dan benar-benar bersih. Di dapur juga seringkali saya jumpai tulisan ini: “Setelah minum harap dikembalikan ke rak”. Maka, setelah Anda minum, Anda harus kembali ke rak dan bukannya kembali ke kantor, ha ha haa! Yang benar adalah: “setelah buang air kecil, harap menyiramnya sampai bersih,” atau “setelah minum, harap mengembalikan gelas ke rak”.

Akhir-akhir ini sering saya dengar dengan amat sedih kata-kata haram jadah. Saya sebut haram jadah karena benar-benar merupakan perselingkuhan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Lebih menyedihkan lagi, yang sering mengucapkannya justru orang-orang sekelas pejabat yang seharusnya menjadi panutan anak buahnya. Coba simak ini:

“Maka kita akan meng encourage mahasiswa untuk semakin aktif dalam kegiatan ini”

“Apa mereka tidak bisa mem provide layanan itu untuk pelanggan?”

“Kalau begitu ya kita harus mem push para staf untuk bekerja lebih cepat”.

Sedih saya mendengarnya. Ya, memang benar, suatu bangsa tidak akan pernah menjadi besar jika untuk urusan sekecil bahasa saja sudah tidak karuan. Kalau urusan bahasa saja tidak mau perduli, jangan harap akan perduli urusan yang lebih penting seperti pembentukan karakter positif, kematangan emosional dan spiritual, etos kerja keras, semangat persatuan dan semua kebajikan lainnya.

Tapi ah, sudahlah, ini hari Minggu. Tidak bagus berkeluh kesah. Selamat menikmati hari Minggu!

Posted in: Uncategorized