Dialog Mentor dengan Menteenya

Posted on April 25, 2011

0


Mentor: Dulu ketika kamu SMP, kamu dekat sekali dengan Tuhan; tapi sekarang, kamu tidak lagi mau mengakui Nya. Kenapa? Adakah suatu peristiwa dahsyat yang membuatmu sangat kecewa terhadap Tuhan?

Mentee: Yah, . . . banyak hal yang gak sejalan dengan apa yang saya pikir. Dan sejak itu saya jadi berpikir apa Dia benar-benar ada? Apa Dia akan membantu setiap orang? Kalau iya, mana? Dan puncaknya ya pada saat Ibuku sakit itu.

Mentor: Nah, jadi benar dugaan saya bahwa kamu dendam atau setidaknya marah sama Tuhan: “kenapa Ibuku dibuat sakit? Kalau benar Tuhan cinta umatnya yang rajin berdoa, kenapa Ibuku yang rajin beribadah dibuat jatuh sakit? Tuhan macam apa ini yang membuat umatnya sakit??!” Nah, Di Injil dikatakan bahwa cara Tuhan menunjukkan perhatian dan kasihNya kepada umatnya adalah dengan ‘menyesahnya’ (melatihnya, memberinya cobaan), karena Dia ingin umatnya bertumbuh dalam penderitaan itu. Namun, dalam penderitaan itu pun sebenarnya Dia tidak pernah meninggalkan umatnya. Buktinya, berapa banyak orang sakit yang kemudian pulih setelah didoakan bersama, atau menerima kuasa Nya sebagai penyembuh?

Nah, bukti bahwa kamu benar-benar menyingkiri Tuhan adalah ketika Ibumu akhirnya mulai pulih, dan bisa beraktivitas lagi walaupun tidak pernah bisa sama seperti dulu. Apa kamu berterima kasih kepada Tuhan? Samar-samar saya ingat sms mu mengatakan : “Thanks, God”, tapi ya hanya itu; selebihnya, kamu tetap bergeming dari ketidakpercayaanmu akan kuasa Nya. Kalau kamu menganggap bahwa Tuhan yang membuat atau membiarkan Ibumu sakit, kenapa kamu tidak mau mengakui bahwa Tuhan jugalah yang memulihkan Ibu mu? Kamu mungkin bilang: “Yang menyembuhkan ya dokter-dokter yang pandai-pandai itu, Pak”. Pertanyaan saya: “betul, dokternya pandai, dan juga pasti percaya Tuhan. Kamu kira kepandaian mereka itu datang dari siapa? Yang menciptakan otak dan pikirannya sehingga sepandai itu dan bisa menyembuhkan Ibu mu itu siapa? Kalau dirunut-runut sampai ke asalnya, ternyata ya Tuhan juga jawabnya”.

Tahu S dan D kan, teman-temanmu se kelompok mentoring? Ayahnya kan juga pernah sakit sampai harus diopname. Coba tengok Wall Facebook mereka: mereka langsung minta teman-teman mendoakan kesembuhan ayahnya. Ketika sudah sembuh, baca lagi apa yang mereka tulis di Wallnya: “Terima kasih, Yesus, Engkau telah menyembuhkan ayah kami.” Perbedaan besar antara orang ateis seperti kamu dengan kedua temanmu itu adalah: dalam setiap cobaan atau kegembiraan mereka tidak pernah melepaskan pegangannya dari Tuhan, karena mereka percaya sekali bahwa sebagaimana Tuhan memberikan cobaan itu, seperti itu pula Dia dengan kuasa KasihNya meringankan penderitaan itu. Syaratnya apa? Sederhana sekali: punya iman akan Dia!

Mentee: Tapi ngapain juga ya Tuhan memberikan cobaan kepada manusia yang dikasihiNya? Kayak kurang kerjaan aja–

Mentor: Itupun ada di Injil. Dikatakan disana bahwa kalau seorang Bapa menyayangi anak-anaknya, dia tidak segan-segan menyesah (mencambuk) anak-anaknya; maksudnya memberikan latihan yang keras sehingga sang anak ditempa menjadi kokoh, dan tetap percaya kepada Bapanya. Kelak kalau kamu punya anak, kamu pasti akan menempa mental mereka dengan memaksa mereka belajar, menghukum mereka kalau nakal, memberi uang saku secukupnya supaya mereka tidak boros, dan lain sebagainya. Bukankah itu “penderitaan” di mata mereka, namun sebenarnya adalah ungkapan bahwa kamu sayang mereka? Nah, Tuhan demikian juga terhadap umat yang dikasihiNya. Kalau mau bukti lebih tepat, buka Kitab Suci Ibrani 12: 6, dimana dikatakan: “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

Mentee: Yah, mungkin nanti saatnya akan tiba ketika saya mau mempercayai Tuhan lagi, tapi yang jelas bukan sekarang.

Mentor: Yah, there is time for everything, and there is always a purpose behind everything. Saya punya perasaan bahwa kamu akan menempuh jalan yang sama seperti yang saya lalui, dari kegelapan, menuju pencerahan. Sekarang ini, kepada siapa kamu akan berpegang? Kalau kamu tetap tidak percaya Tuhan, kamu tidak bisa berpegangan padaNya. Harapan saya tentunya kamu bertemu dengan seorang pria baik yang luar biasa religius dan mau berdarah-darah membimbingmu menuju ke hidup yang lebih mantap dan bahagia di dalam kasih Tuhan, dan akhirnya menjadi suami kamu. Mungkin juga ini harapan yang terlalu muluk, mengingat saya tahu benar bagaimana pandangan kamu tentang pernikahan. Well, . . . jadi saya sendiri sebenarnya tidak tahu pasti, kepada siapa kamu akan berpedoman sebelum pria itu datang untuk menjadi belahan nyawamu. Yang saya punyai hanya iman, kepercayaan bahwa sejatinya Tuhan tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian, tersesat kelimpungan tanpa harapan. Suatu ketika, camkan apa yang saya katakan: Dia akan mendapatkanmu kembali, entah dengan cara dahsyat seperti apa. HE WILL WIN YOU BACK!

Posted in: Uncategorized