Cinta Saya dan Jenazah Itu . . .

Posted on April 22, 2011

0


Salib besar dan saya berdiri di bawahnya. Terbayang penggalan-penggalan bagus yang baru saya baca. Yang pertama di bawah ini dari Wall Facebooknya seorang mentee, dan yang di bawahnya lagi dari Holy Bible:

“Love feels no burden, thinks nothing of trouble, attempts what is above its strength, pleads no excuse of impossibility… It is therefore able to undertake all things, and it completes many things, and warrants them to take effect, where he who does not love would faint and lie down. Love is watchful and sleeping, slumbereth not. Though weary, it is not tired; though pressed, it is not straitened; though alarmed, it is not confounded… ~ Thomas A. Kempis “~

“Love hopes all things, bears all things, and endures all things” (1 Korintus 13 ayat 7).

Saya tercenung di bawah salib itu. Tubuh Yesus menggantung di salib. Sulit membayangkan penderitaanNya di saat-saat terakhir hidupnya, tapi yang paling menakjubkan adalah semua itu Dia jalani karena kasih Nya kepada manusia, bahkan juga manusia-manusia yang mendera dan menyalibkannya sampai mati.

Hmm ,. . . . ternyata sulit juga ya mencintai? Begitu gampang dikatakan, luar biasa sulit dilakukan. Bagaimana mau bilang cinta kalau pikiran dipenuhi prasangka buruk terhadap orang lain, kecemburuan, bahkan kemarahan ketika seseorang yang kita bilang kita cintai sedang ngambek, bad mood, telat atau melakukan kesalahan, entah disengaja atau tidak.

Tapi justru karena itu kita menundukkan kepala di hari Yesus wafat ini. Jumat Agung. Kita berterima kasih untuk cintaNya, dan kita–atau, well, setidaknya saya–tetap mau meneladaniNya sekalipun sungguh sulit dan terjal jalannya.

Posted in: Uncategorized