Shrapnel 20 April 2011: Safe and Sound

Posted on April 21, 2011

0


Pagi, Rabu 20 April 2011: bangun-bangun sudah disapa PID di BB Chat, bertanya tentang bagaimana nasib prodi yang kemarin mengalami perjuangan sungguh berat pada sesi verifikasi dokumen akreditasi. Saya jawab apa adanya, tapi saya selipi pesan juga bahwa semua yang terjadi kemarin sebenarnya semacam ujian bagi kita untuk mengenang sengsara Yesus di kayu salib. “Apa yang terjadi dengan kami kemarin nggak ada apa-apanya dibanding sengsara Yesus menebus dosa manusia di kayu salib,” kata saya, “dan kok kebetulan di 1 Corinthians 13: 7 di Holy Bible yang saya baca ada penggalan yang sungguh tepat: Love hopes all things, bears all things, endures all things”. Endures all things, bertahan kokoh terhadap apapun yang terjadi. Sama seperti Yesus, setia sampai akhir, lha masak kita yang hanya mendapat kerikil seperti itu (bukan cambuk dan mahkota duri dan tombak seperti Yesus) mau tidak setia pada perjuangan?

Setelah akreditasi selesai–setidaknya evaluasi dokumen dan visitasi–maka saya langsung memfokuskan diri pada KPI Dekan Fakultas. Jadi agenda pertama hari itu adalah merancang peraturan untuk resource sharing. Satu hari draftnya selesai. Lumayan lah, wong masih diselingi memberi bimbingan dan menghadiri seminar proposalnya Grace dan Mia.

Di seminar itu saya melontarkan semua kritik tajam untuk proposal mahasiswi-mahasiswi ini; mulai ejaan sampai metodologi kena semua. Tapi buru-buru saya tambahkan pesan: “Jangan marah ya kalau saya mengkritik tajam. Saya melakukan ini juga demi kebaikan kalian. Kalian hanya bisa bertumbuh menjadi lebih baik kalau bisa menerima kritik seperti ini dengan hati dan pikiran terbuka.” Ya memang, saya tidak sedang menggombal. Saya menerima mandat sebagai Dekan juga dengan niat baik, kok; perkara niat baik itu saya ejawantahkan dengan kritik dan tindakan serba terencana dan tegas, ya nggak papa, kan yang penting niatnya baik. Saya jadi ingat sikap dan cara kedua asesor kemarin di prodi rekan saya itu. . . . seandainya mereka juga punya niat baik, mungkin tidak akan sekasar itu cara bertanya nya. . . . ah, tapi sudahlah, ingat lagi saya ayat di Corinthians itu . . . .

Sore saya mengemudi tepat di belakang seorang bapak yang juga rekan kerja saya. Mobilnya pun sama dengan punya saya. Tapi, hmmm . . . . kok agak kurang fine gitu ya cara nyetirnya? Cenderung cepat dan kurang toleran. Masak ada anak sekolah di depan SMP 5 mau nyeberang gak dikasih jalan; hampir saja keserempet. Hey, Bapak, usia saya 30 tahun lebih muda daripada Anda, tapi saya menyetir dengan jauh lebih kalem dan sangat toleran terhadap pemakai jalan lain. Halooo. . . . . Pak, ingat Pak, itu mobil baru ketabrak parah beberapa minggu lalu, ati-ati, Paaaakk! Ingat usia dan ingat Tuhan!

Malam tiba. Saya ungkapkan perasaan saya sepanjang hari itu di Wall FB: “Safe and sound, mind and body and soul”. Tengah malam ketika terbangun saya cek status itu; ada dua orang me “like” nya, salah satunya mentee saya. Oh, good!

Selamat pagi semua! Tuhan memberkati!

Catatan:

* PID = yang jelas bukan Patrisius Istiarto Djiwandono; PID yang di atas itu adalah inisial rekan kerja saya, atau boleh juga merupakan kependekan dari “(another) Pisces In DPM”.

** Apa hubungannya akreditasi yang berat dengan Yesus? Ya, karena ini menjelang Paskah, wafat dan kebangkitan Yesus. PID dan saya beragama Katolik.

Posted in: Uncategorized