Shrapnel 15 April 2011: Akreditasi, Cinta dan Zodiak

Posted on April 15, 2011

0


Menjelang jam 5. Urusan mendampingi akreditasi sudah selesai, setidaknya untuk tahap visitasi. Hari Selasa depan saya akan mendampingi Prodi TIF, Prodi yang terakhir divisitasi.

Seharusnya saya sudah kembali ke kantor saya di QA di Gedung Rektorat sana, tapi entah kenapa rasanya maleess sekali beranjak dari kantor Dekan ini. Suasananya yang sangat private membuat saya jauh lebih nyaman rupanya. Saya bisa bekerja dengan tenang tanpa harus tanpa sengaja memandang –dan dipandang–orang yang bersliweran di depan kantor saya, hal yang senantiasa terjadi di kantor yang lama di DPM.

Tapi ah mengapa jadi ngomongin kantor? Bosan. Nah, maka saya jalan-jalan tak tentu arah di dunia cyber. Saya nemu ini di Twitter:

“Pisces want people in their life who stir their emotions because this helps them to practice emotional stability”.

Hmm, really?

Ngawur ah ini. Sebagai seorang Pisces, saya tidak menyukai orang yang emosinya kayak angin puyuh, atau sebentar reda, sebentar timbul. Apa iya orang yang mengaduk-aduk emosi saya itu bisa membuat saya terlatih mengendalikan emosi? Kayaknya kok ndak juga ya. Kalau ada orang seperti itu ya paling saya jauhi. Saya suka seorang yang senantiasa bisa mengendalikan emosinya, selalu kelihatan cool, dan bukan cuma di luarnya, tetapi juga di dalam hati dan benaknya.

Masih di Twitter, saya nemu yang ini:

“1 easy way to die: love someone who doesnt love you back, and you will die daily”.

Reaksi saya? Huekzzz, blaah! Ini ceracauan omong kosong dari seseorang yang tidak tahu apa itu arti cinta. Cinta sejati tidak pernah mengharapkan balasan. Lha kalau ngaku mencintai tapi masih memendam keinginan untuk dicintai balik, itu bukan cinta. Itu namanya nafsu birahi.

Pikir-pikir, orang begitu mudahnya mengucapkan “cinta” tanpa tahu apa arti kata itu. Menurut saya, kalimat “aku cinta padamu” yang diucapkan oleh seseorang pria kepada wanita atau sebaliknya itu adalah suatu overstatement. Ungkapan yang benar adalah : “Aku menginginkanmu jiwa dan raga, dan aku harap kau juga memiliki perasaan yang sama terhadapku”. Begitu baru benar!

Lalu, siapa yang paling pantas di hidup ini mengucapkan kata cinta? Ya orangtua kepada anaknya. Ketika seorang pria atau wanita mengucapkan “aku cinta kepadamu, anakku” itu berarti sudah komitmen total untuk berkorban sak korban-korbannya demi kesejahteraan, kesehatan, dan kebahagiaan sang anak. Mau kerja sampai sekarat pun, asal sang anak bisa sekolah dan hidup layak, tetap akan dijalani oleh seseorang yang mencintai anak tersebut. Betul kan? Mencintai adalah melakukan sesuatu, bahkan kalau perlu mengorbankan diri, untuk membahagiakan yang dicintai, tanpa sedikitpun mengharapkan balasan.

Ini menjelang Paskah. Yesus hidup untuk manusia, dan mati disalib untuk manusia juga. Cintanya murni, total. Sebaiknya saya berhenti ngoceh sampai disini dulu, pulang ke rumah, dan merenungkan sengsara dan kebangkitan Yesus.

Posted in: Uncategorized