Merrie

Posted on April 15, 2011

4


Mentee ini namanya Merrie. Merrie Ling. Di Curcuminoid dulu saya mengenalnya sebagai mahasiswi yang pendiaaam sekali ketika diskusi kelompok. Saking pendiamnya sampai kadang-kadang saya menganggap dia absen, padahal jelas-jelas anak ini sudah ngejugrug di kursinya.

Mentee sependiam Merrie di tengah diskusi kelompok membuat saya kadang nyaris kehilangan kesabaran. Suatu ketika di satu sesi mentoring saya terus menerus mendesaknya supaya dia mau bicara. Saya masih ingat apa yang saya katakan: “sepintar-pintarnya Anda, kalau Anda hanya diam saja, mana orang lain tahu bahwa Anda punya pemikiran-pemikiran cemerlang??”. Tapi Merrie keukeuh dengan sikap diamnya.

Lalu pada hari yang sama saya menghadiri suatu rapat dengan banyak kolega. Di rapat itu saya diam saja karena merasa toh sudah banyak rekan yang melontarkan ide-ide bagus. Kalaupun saya punya ide lebih bagus tapi agak sensitif, ya sudah, saya tahan saja dalam hati nanti akan saya katakan setelah rapat bubar dan saya bisa bertemu empat mata dengan pimpinan.

Ternyata sikap diam itu membuat pimpinan rapat bertanya-tanya. Saya masih ingat apa yang dia katakan: “Pak, ada pendapat Pak? Dari tadi kok diam saja? Biasanya kan Bapak punya ide-ide bagus, ayo share ke kami, Pak, jangan diam saja.”

Dhieggg! Instant karma! Saya langsung ingat Merrie di sesi mentoring itu dan nasihat saya sendiri kepadanya.

Sejak saat itu saya bersikap lebih bijak terhadap murid yang pendiam di kelas atau mentee pendiam di kelompok mentoring. Ternyata diam bukan berarti otaknya sedang ‘hang’, tapi karena ya memang sudah seperti itu gaya pikirnya. Sama seperti saya di forum rapat, murid-murid saya yang pendiam bisa saja terus aktif memproses ide dalam benaknya, namun tidak terburu-buru menyuarakannya karena mereka bersikap hati-hati dalam mengolah informasi dengan lebih cermat.

Setelah Curcuminoid bubar, saya kaget—sekaligus senang—mendapati bahwa Merie ternyata suka menulis. Dua atau tiga tulisannya muncul di blog ini, dan ternyata cukup bagus juga respons pembaca. Belakangan ini dia juga rajin membaca blog ini, dan menelurkan beberapa komentar. “Ayo, Mer, kapan kamu nulis lagi?” tanya saya pada komen dia di posting sebelum ini. “Ah, saya rajin baca aja, Pak”, kilahnya. Khas Merrie. Tapi nanti suatu saat ketika dia menyentuh tipping pointnya, saya yakin dia pasti akan menulis lagi untuk blog mantan mentornya. That is a good sign from a former mentee of mine!

Catatan:

Tipping point : momen dimana seseorang sampai pada puncak kondisi mental dan pikirannya yang memampukan dia untuk melakukan pencapaian-pencapaian atau prestasi.

Posted in: Uncategorized