Saya, Musuh Saya, Mentee Saya dan Tuhan Saya

Posted on April 13, 2011

0


Hari ini saya sibuk mendampingi Prodi Manajemen yang sedang divisitasi asesor akreditasi. Tapi tengah tekun menyimak wawancara yang menegangkan antara asesor dengan pimpinan-pimpinan Prodi, mentee saya yang tadi siang meminjamkan 2 DVD film, menulis di wall FB nya. Intinya: dia gundah karena ada dua orang yang dikenalnya dekat tapi sekarang sedang berkonflik. Tanpa dia menyebut namapun, saya langsung tahu bahwa yang dimaksudkannya pastilah saya. Ya iyalah, namanya juga mentor yang dia anggap sebagai a father figure; dia tahu sekali apa yang sedang dialami mentornya.

Saya kemudian sibuk menjelaskan kepadanya apa yang sesungguhnya terjadi via texting. Dia kelihatan kecewa karena mentornya bersikap keras dan merencanakan mengambil langkah-langkah tegas. Nampaknya sang mentee ini tidak suka dua orang yang dijadikannya panutan harus bertikai.

“Dalam hidup, kadang-kadang ada saja orang atau pihak yang tidak lagi selaras dengan kesepakatan dan aturan yang sudah dibuat dan disepakati,” demikian batin saya. “Dan untuk itu kita terpaksa berkonflik.”

Dia membalas texting dengan mengatakan bahwa orang yang sedang tidak enakan dengan saya itu adalah orang baik. Maka terpaksa saya buka wawasannya dengan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Begitulah, sampai malam, ketika proses visitasi sudah usai, saya masih sibuk texting dengan sang mentee, membuka wawasannya, menyadarkan dia bahwa memang beginilah dinamika hidup: kita sih maunya selalu damai, semua lancar, semua bekerja sama dengan baik, namun yaah….selalu saja ada orang yang tidak sepaham, ditambah dengan tiadanya komunikasi atau dialog antara kita dengan orang itu, maka berkembanglah konflik. Itu biasa dalam hidup sebenarnya. “Kelak kalau kamu sudah bekerja atau punya usaha sendiri,” demikian tulis saya di sms, “kamupun akan menjumpai dan mengalami hal yang sama.”

Pada saat tertentu, dialog dengan sang mentee ini sedikit banyak juga menyadarkan saya untuk selalu memilih jalan Terang, memilih jalan Roh Kudus, sekalipun kadang-kadang pikiran jahat dan nafsu balas dendam bersliweran di pikiran. Biasa, iblis versus malaikat. Tapi saya sudah memutuskan bahwa saya akan memilih jalan Terang. Bukankah sudah saya tulis di posting “Because They are Fucking Human Beings” bahwa separah-parahnya konflik dan sebenci-bencinya saya pada sang antagonis, saya harus tetap menyalakan empati, kemauan memahami, memaafkan, dan bahkan minta maaf kalau memang ada kesalahan yang saya lakukan tanpa sadar? Well, easier said than done! Yaah, iya sih. Tapi setidaknya saya sudah menulis, dan biasanya kalau sudah saya tulis, saya bertekad kuat untuk melakukannya.

Disini sekali lagi satu bukti betapa tidak mudah menjadi mentor. Saya tahu mahasiswi ini benar-benar memandang saya sebagai panutan. Nah, peristiwa ini pasti semacam test case buat saya sebagai mentornya. Mampukah saya mengatasi konflik secara elegan, tanpa harus kehilangan kendali diri dan tetap mengutamakan win-win solution serta kemanusiaan? Kalau saya kalah oleh ego dan bisikan Iblis, saya akan ngamuk membabi buta, dan mentee itu pasti punya alasan sangat kuat untuk meninggalkan mentornya, karena sang mentor ternyata hanya pandai berceramah tentang karakter baik namun gagal menerapkan karakter baik itu dalam tindakannya. Walk the talk, kata orang Inggris. Lakukan apa yang kamu ceramahkan, bahasa Indonesianya. Mampukah saya?

Saya sayang sekali sama mentee yang satu ini, tapi saya lebih menyayangi Yesus sebagai sosok super being yang sudah saya teladani. Kalau Yesus rela mati dengan tubuh remuk di kayu salib untuk menebus dosa manusia, dan toh masih mampu memaafkan orang-orang yang menyalibnya, saya juga mau seperti itu. Cobaan yang saya alami pastilah tidak ada seujung debu dibandingkan dengan apa yang Yesus alami.

Sang mentee sudah pulas ketika saya menulis ini. Besok program studinya akan divisitasi, dan sebelum tidur dia meminta dengan sangat supaya saya bisa mendamping prodinya tersebut. Saya tulis sebagai balasan sms nya: “Saya sudah bertekad untuk memberikan dukungan sepenuhnya pada prodi kamu besok. Niat baik dan dukungan tulus pasti juga akan berbuah baik.”

Selamat malam! Have a nice sleep!

Posted in: Uncategorized