Minder

Posted on April 12, 2011

5


Saya tidak akan tahu bagaimana rasanya minder sampai saya mengalami sendiri perasaan tersebut.

Pada suatu pertemuan keluarga besar, jarang sekali ada yang mau duduk dekat dengan saya lalu ngobrol ngalor-ngidul. Begitu saya masuk ke suatu kerumunan, eh, entah kenapa suasana mendadak jadi kaku. Ungkapan yang keluar kemudian terasa sekedar basa-basi yang lama-lama menjadi basi. Lalu satu persatu mundur begitu saja, sampai akhirnya saya sendirian.

“Mereka minder sama kamu,” kata salah seorang saudara.

“Haah??” saya pun ternganga. “Minder? Memang apanya dari aku yang membuat mereka harus minder??”

“Mereka bilang, kamu tuh berpendidikan tinggi, sudah Doktor, profesor pula. Lha mereka sendiri kan kamu tahu paling banter cuma lulusan SMA. Mereka takut kelihatan bodoh di depanmu, makanya mereka sungkan, minder, terus menjauh.”

*&*&^%! Saya benar-benar tak habis pikir. Terus kenapa kalau memang saya ini Doktor? Apa iya seorang lulusan S3 kemudian bisa tahu segalanya? Pastilah ada banyak hal yang saya tidak tahu yang mereka lebih banyak tahu. Jadi sebenarnya kalau ngomong kami malah bisa nyambung; lagipula saya adalah tipe pendengar yang baik. Jadi, kenapa harus minder??”

Demikianlah saya tak habis mengerti bagaimana orang bisa minder terhadap saya yang juga masih perlu banyak belajar ini, sekalipun sebagai seorang akademisi saya benar-benar sudah mencapai puncak.

Sampai akhirnya saya mengalami sendiri bagaimana menjadi minder dan merasa jadi keciiiilll begitu . . . .

Awalnya sederhana saja. Saya terima sms dari seseorang yang mengatakan bahwa dia akan pergi berwisata ke Singapore dua bulan lagi. Entah kenapa, begitu membaca smsnya terjadilah hal yang sangat sangat amat aneh itu: saya merasa minder!

Langsung rasanya seperti seonggok kertas yang lebih baik disingkirkan saja karena tidak match dengan dekorasi mewah di sekelilingnya. Saya tertegun sendiri. Oh, beginikah perasaan minder itu?

“Waduh, kaya banget murid yang satu ini,” demikian batin saya dalam hati. “Keluar negeri seperti kalau aku pergi ke restoran Padang di seberang jalan di kompleks rumah aja!”

Begitu merasa minder, semua akal sehat langsung hilang, berganti dengan perasaan nelangsa dan tak berharga. Saya langsung tahu kenapa saudara-saudara saya yang ‘hanya’ lulusan SMA tadi langsung ingin menjauh dari saya, karena pada detik itupun saya mengalami hal yang sama: ingin menjauh dari si murid yang kaya raya ini karena saya merasa kurang pantas menjadi gurunya. Kenapa tidak pantas? Ya karena saya tidak sekaya dia!

Lama waktu berjalan setelah itu. Malam menjelang, dan tiba-tiba saya ingat apa yang saya tuliskan tentang buah-buah Roh Kudus dalam hidup kita: buah Roh itu adalah kesabaran, pengertian, belas kasih, dan kegembiraan. Tidak ada buah Roh Kudus yang berupa rasa minder.

Maka tahulah saya betapa saya nyaris terjebak dalam hasutan Iblis. Dia datang dalam perasaan minder, tidak berharga, nelangsa, bahkan ingin menjauhi murid saya tersebut. Lha kalau seandainya saya membuang dia dari hidup saya hanya karena rasa minder yang menggelikan dan konyol itu, apa dia tidak melongo keheranan? Pastilah dikiranya sang guru sudah kehilangan akal sehat. Kalau itu terjadi, pastilah Iblis–yang sejatinya setia mengincar segala kelemahan dalam diri saya dan kita semua–akan bersorak sorai.

Saya bangun pagi setelah menanamkan Roh Kudus dalam pikiran dan hati saya malam sebelumnya. Saya sudah membuat keputusan: saya tidak mau merasa minder. Bahwa sebagai guru saya punya murid yang jauh lebih kaya itu memang fakta, namun saya yakin masih banyak hal yang bisa saya lakukan untuk perkembangan dirinya–dan juga perkembangan diri saya–tanpa harus terjebak dalam perasaan saling merendahkan atau menjadi minder.

Posted in: Uncategorized