Kiamat si Provokator

Posted on April 10, 2011

0


Ketika saya masih kecil, saya takut sekali terhadap apa yang disebut “kiamat”. Bayangan saya, kiamat adalah waktu dimana bumi ini mendadak meledak seperti mercon, lalu habis berkeping-keping begitu saja.

Sekian puluh tahun kemudian saya tertawa sendiri mengenang bayangan lugu masa kecil itu. Tapi seketika saya berhenti tertawa, manakala menyadari bahwa Bumi yang sedang saya huni ini ternyata sedang kiamat . . .

Gempa besar di Jepang terjadi karena dua lempeng bumi nun jauh di perutnya di bawah sana saling bertumbukan. Yang satu disebut lempeng Pasifik, satunya lempeng Asia. Lempeng Asia menunjam ke lempeng Pasifik sehingga menyebabkan gempa dahsyat yang diikuti oleh tsunami raksasa itu.

Apakah setelah itu berhenti? Tidak. Kedua lempeng itu masih terus saling mendesak sampai tercapai titik keseimbangan baru. Maka jangan heran kalau setelah itu masih terjadi gempa-gempa yang seolah menjalar ke berbagai tempat lain, termasuk yang terjadi di Jawa Tengah minggu lalu, yang sempat saya rasakan juga ketika insomnia jam 3 pagi.

Tsunami raksasa yang melanda Jepang itu membawa akibat tak kalah mengerikan: sistem pendingin reaktor nuklir di Fukushima terkoyak, macet, sehingga reaksi nuklir di dalamnya menjadi kepanasan, dan akibatnya radiasi nuklirnya bocor ke luar, mengalir ke laut lepas, menembus ikan dan udang di laut, mencemari air yang kemudian mengalir ke berbagai tempat, termasuk ke laut-laut kita.

Gunung-gunung di Indonesia juga mulai mengaum lagi. Kemarin diberitakan Gunung Merapi mulai bergemuruh lagi. Gunung Bromo kabarnya menyebabkan kupu-kupu berpindah dari tempat asalnya ke tempat yang lebih rendah, dan bermetamorfosa menjadi jutaan ulat bulu yang menghebohkan warga Probolinggo dan sekitarnya. Anehnya, burung-burung yang biasanya makan ulat malah menghindari mereka—mungkin karena ngeri sendiri melihat jumlahnya yang jutaan—dan memilih makan padi.

Ini bulan April, tapi ternyata hujan masih bersikeras untuk turun dari hari ke hari. Wah ini pertanda bakal musim hujan sepanjang tahun seperti tahun lalu.

Lalu kita bertanya-tanya: “apa gerangan yang sedang terjadi?”

Time is running out. Mungkin sudah saatnya kita memutuskan untuk memanfaatkan waktu tersisa dengan memilih: mau bagaimana menjalani hidup ini? Sekali lagi, hidup hanya soal memilih. Kita bisa memilih untuk menjadi lebih baik, atau memutuskan untuk setia di jalan gelap dan menjadi jahat.

Perkara mau menjadi jahat atau menjadi baik tidak masalah, karena yang lebih penting adalah menanyakan kepada diri sendiri: apa yang aku tuju? Apa yang akan aku peroleh?

Ok, katakanlah Anda seorang provokator yang merasa gerah karena tidak kebagian jabatan tinggi di tempat kerja Anda. Anda mulai membangkang, mempersetankan semua aturan, dan sibuk memanas-manasi beberapa orang di sekitar Anda. Anda mau kemana dengan semua itu? Apa tujuannya? Kalau tujuan sudah tercapai—dengan catatan bahwa Anda sukses “menggulingkan kekuasaan” dan bukan Anda sendiri yang mati digantung di tengah lapangan—lalu bagaimana?

Sebelum semua pertanyaan itu terjawab, tidak ada salahnya menyadari bahwa dunia sedang menuju ke akhir nasibnya. Lalu selanjutnya ya terserah Anda.

Posted in: Uncategorized