Pintu – Pintu Kantor dan Sang Penunggu

Posted on April 8, 2011

4


Aneh tapi nyata: pintu-pintu kantor saya hanya mau terbuka dengan lancar jika yang membuka adalah staf dan dosen. Begitu mahasiswa yang membuka, langsung jeglek ngekzz . . . macet!

Awalnya saya cuek saja, tapi lama-lama jadi penasaran juga. Kenapa bisa begitu? Jangan-jangan ada penunggunya. Penunggu? Oh jelas itu. Kalau di DPM, penunggunya adalah saya dan Prita, di ruang Dekan FBS, penunggunya saya sendiri. Di ELTISI, penunggunya Kathleen. Jangan kira kami senang melihat mahasiswa jadi be-te karena gagal membuka pintu kantor; kami juga prihatin kenapa mereka begitu sulit, padahal kami dan rekan-rekan kerja lain dengan mudah memegang handelnya, mendorong ke bawah, dan . . . ta-daaa, . . . . . .terbukalah pintu itu.

Satu dugaan saya adalah karena kebanyakan mahasiswa merasa grogi harus membuka pintu Quality Assurance atau Dekan. Kedua, mereka sedang terburu-buru, ditambah dengan bawaan sifat anak muda jaman sekarang yang maunya grusa-grusu, serampangan. Pintu yang mestinya bisa terbuka dengan teknik kalem dan pe-de itu langsung macet begitu dipaksa oleh tangan-tangan nervous yang terburu-buru dan mau cepat selesai. Cara mereka membuka begini: handel dipegang, didorong ke bawah, dan baru setengah jalan sudah dipaksa ke arah luar, ya pantes langsung macet. Sementara itu, staf dan dosen lain membukanya begini: handel dipegang, didorong penuh ke arah bawah sampai tuntas, baru didorong ke luar. Zzzzt . . . pintu pun mulus terbuka.

Begitulah. Jangankan mahasiswa lain yang saya ndak begitu kenal, bahkan mentee sekaliber Pamela atau Bio pun yang sangat dekat dengan mentornya kemarin gagal membuka pintu kantor saya dengan mulus.

Hmm, tunggu, hanya ada satu mahasiswa yang bisa dengan mulus membuka pintu Dekan: Kyan Witantri, mahasiswi saya angkatan 2007. Dengan lancarnya dia keluar masuk kantor saya membawa naskah atau surat untuk saya tandatangani.

Oh, kenapa bisa begitu? Terkuak kah akhirnya rahasia membuka pintu dengan lancar? Oh, tidak. Jangan salah duga. Kyan bisa keluar masuk dengan lancar karena akhirnya–saking sebalnya saya– pintu itu saya buka, saya ganjal dengan kursi, sehingga tetap terbuka lebar.

Good morning!

Posted in: Uncategorized