Professor? Ah, Masak

Posted on April 5, 2011

0


Iya, saya profesor pendidikan bahasa Inggris per 1 Juli 2010. Tapi terus terang saya merasa tidak seperti profesor.

Saya tidak tahu letak salahnya dimana. Mungkin sudah salah kaprah sehingga tidak terasa lagi bahwa ada yang kurang benar. Tapi rata-rata seorang akademis seperti saya yang bergelar Doktor dan apalagi sudah profesor mengalami nasib yang sama: dipercaya menjadi pejabat struktural! Akibatnya, sehari-harinya saya justru harus sibuk menangani perencanaan dan eksekusinya yang nggak ada hubungannya dengan gelar saya sebagai profesor. Di Quality Assurance saya menangani masalah penjaminan mutu dengan bunga rampainya, mulai dari format SOP sampai kebijakan mutu; di Fakultas Bahasa dan Seni saya menangani pembentukan senat, pembaruan kurikulum, kegiatan kemahasiswaan, perencanaan anggaran, sampai penggunaan ruang kelas. Di ELTISI saya menangani pendaftaran tes, promosi kursus, penggajian dosen dan sebagainya. Lha terus kapan saya menggeluti ilmu saya yang sejatinya adalah pembelajaran bahasa itu?

Dalam waktu kerja yang 40 jam seminggu itu, saya hanya sempat menulis dan membaca jurnal bidang pendidikan bahasa selama tidak lebih dari 3 jam! Bayangkan! Profesor malah sibuk ngurusi administrasi, dan hanya sempat membaca jurnalnya setelah otak dan tenaga terkuras habis-habisan di berbagai urusan administrasi!

Tapi, setelah saya pikir lagi, justru kesalahkaprahan ini membuka wawasan saya tentang bidang-bidang yang tidak pernah saya bayangkan akan saya geluti ketika belajar dari S1 sampai S3 dulu: merancang sistem, merancang aturan, mengevaluasi kinerja, membaca suasana kerja, memilih bakat kepemimpinan di antara staf saya, bahkan sampai pada promosi dan negosiasi!

Yah, syukurlah, saya masih bisa melihat sisi terangnya.

Tapi itu juga tidak akan terlalu lama. Per Juli tahun ini saya akan meninggalkan dua jabatan saya, dan berfokus pada satu jabatan saja. Dengan demikian, saya bisa lebih banyak memusatkan pada bidang ilmu pembelajaran bahasa yang saat ini jadi terasa seperti anak tiri dalam pekerjaan saya sehari-hari.

Posted in: Uncategorized